Home Pendidikan Cegah Klaster Baru, Sekolah di Loteng Masih Belum Boleh Dibuka

Cegah Klaster Baru, Sekolah di Loteng Masih Belum Boleh Dibuka

Siswi SMPN 4 Praya Tengah pulang ke rumah pasca pengumuman perpanjangan belajar dari rumah oleh pihak sekolah, Senin (13/7/2020) kemarin. (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Proses belajar mengajar tatap muka bagi siswa SMP-PAUD di Kabupaten Lombok Tengah paling cepat akan dilaksanakan pada bulan September 2020 mendatang.

“Paling cepat itu (sekolah) akan dibuka September”,kata Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah, H. Sumum, Selasa (24/7/2020) di Kantor Bupati Lombok Tengah.

Diterangkan, tahun ajaran baru 2020/2021 memang dimulai pada Senin 13 Juli 2020. Akan tetapi, status Lombok Tengah hingga saat ini masih zona kuning kasus Covid-19.

“Zona merah, orange, kuning itu tidak boleh belajar tatap muka sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri”,jelasnya.

Sehingga Belajar Dari Rumah (BDR) dengan sistem online masih akan berlangsung hingga status Lombok Tengah berubah menjadi hijau untuk dimulainya belajar tatap muka di sekolah paling cepat bulan September nanti.

“Itu juga harus atas persetujuan dari Bupati selaku Tim gugus tugas pencegahan Covid-19”, ujarnya.

Kalau pada bulan September nanti sekolah mulai dibuka, maka jenjang SMP akan memulainya. Kemudian jenjang SD akan menyusul dua bulan kemudian yakni pada bulan November. Sedangkan jenjang TK/PAUD akan masuk sekolah pada bulan Januari 2021.

Dia menjelaskan, pemerintah tidak menginginkan adanya tambahan kasus Covid-19 yang menyasar anak-anak usia sekolah.

Sehingga sekolah belum boleh dibuka sebelum zona hijau. Saat ini, kasus anak usia sekolah yang terpapar Covid-19 sudah mencapai 130 orang.

“Jangan dibukanya sekolah menyebabkan jadi klaster baru”,katanya.

Namun, sekolah sudah dipersiapkan ketika nantinya proses belajar mengajar tatap muka dimulai.

Sejak Maret lalu kepala sekolah sudah mulai mempersiapkan protokol pencegahan Covid-19 seperti yang tercantum dalam 13 item periksa.

“Termasuk juga pemeriksaan suhu. Hampir semua sekolah sudah miliki thermogun. Ketika di pintu gerbang dicek suhunya”,terangnya.

Dari 71 SMP yang telah dilakukan pemeriksaan oleh pengawas, hanya satu yang belum memenuhi standar karena persoalan tenaga kesehatan yang jauh dari lokasi sekolah. Sedangkan sisanya sebanyak 70 sekolah sudah siap terkait semua item pencegahan Covid-19.

“Artinya 99 persen sekolah sudah siap”, demikian H. Sumum.