Hanya 11 Sekolah di Lobar yang Diizinkan Melakukan Simulasi Belajar Tatap Muka

328
Sekretaris Dikbud Lobar, H. Haidurin. (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Hanya ada 11 sekolah di Lombok Barat yang diizinkan untuk melakukan simulasi pembelajaran tatap muka. Yang rencananya akan mulai dilaksanakan Senin pekan depan.

Sekretaris Dinas Pendidikan (Sekdis Dikbud) Lobar, H. Haerudin, sebelas sekolah tersebut diantaranya, SDN 1 Gerung Utara, SDN 1 Gelogor, SDN 1 Dasan Tereng, SDN 1 Sandik, SD IT Insan Cendikia, SD IT Lentera Hati.

Kemudian untuk SMP, lanjutnya, ada SMPN 1 Labuapi, SMPN 1 Gunung Sari, SMPN 2 Lingsar, SMPN 2 Kuripan dan SMPN 1 Lembar.

“Untuk simulasi ini kita selektif dulu, kita lihat kesiapan dari sekolah-sekolah itu dan yang kita rekomendasikan ini, yang sudah betul-betul siap” beber Sekdis Dikbud Lobar, H. Haerudin, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jum’at (07/11/2020).

Dirinya menjelaskan lebih lanjut, simulasi ini akan menerapkan sistem shift dan blok. Dalam sistem shift itu, proses belajarnya akan dilakukan secara bergantian. Dimana perkloter, belajar tatap muka di sekolah akan dilaksanakan selama 2 jam. Kemudian jika dengan sistem blok, lanjutnya, itu dilakukan per dua hari dalam satu kloter (angkatan).

“Misalnya kelas VII SMP hari senin-selasa, terus dilanjut kelas VIII hari rabu-kamis dan kelas IX nya hari Jum’at-Sabtu” jelasnya.

Karena perkelas, maksimal diisi oleh 50 persen jumlah siswa dikelas tersebut. Sekolah yang terpilih untuk melakukan simulasi tersebut, dinilai sudah sangat siap untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

“Karena mereka sudah mengirimkan instrumen yang sudah kita ajukan dan rata-rata hasil rekap nilai mereka itu di atas 85 persen” ungkapnya.

Sekolah yang telah direkomendasikan tersebut, telah dinilai berhasil memenuhi persyaratan untuk boleh melakukan pembelajaran tatap muka. Di mana syaratnya sesuai dengan SKB 4 menteri.

Yang pertama, sekolah yang boleh melakukan simulasi tatap muka adalah sekolah yang berada di daerah zona kuning atau hijau. Kemudian yang kedua, sekolah yang telah memperoleh izin dari kepala daerah, dan yang ketiga sekolah yang sarana dan prasarana yang sudah siap dan sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan covid-19. Serta sekolah yang telah mendapat persetujuan untuk melakukan pembelajaran tatap muka dari orang tua siswa.

“Dan 11 sekolah ini, jauh-jauh hari sudah lengkap persyaratan itu” imbuhnya.

Sehingga proses simulasi yang akan dilaksanakan oleh 11 sekolah tersebut, diharapkan dapat menjadi percontohan bagi sekolah lainnya yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk dapat melakukan simulasi tatap muka selanjutnya.

Simulasi tatap muka ini, rencananya akan dilaksanakan selama 1 minggu.

“Apabila ini berjalan lancar, tidak ada problem, maka kita beri kesempatan kepada sekolah yang lain, untuk melakukan hal yang sama” tandasnya.

Sehingga, kata Haerudin, apabila simulasi yang dilakukan 11 sekolah tersebut berjalan lancar, maka untuk selanjutnya akan diizinkan melakukan pembelajaran tatap muka hingga seterusnya. Dengan catatan harus tetap menggunakan sistem shift atau blok, serta menerapkan protokol kesehatan pencegahan covid-19 dan sesuai dengan tatanan baru.

“Jadi apabila 11 sekolah ini dalam 1 minggu simulasi berjalan lancar, maka mereka akan tetap lanjut dan sekolah yang lain akan mulai mengikuti” pungkasnya.