Merasakan Semangat Fitri Nugraha, Perempuan Disabilitas Penerima Beasiswa S3 di Amerika

Fitri Nugraha Ningrum, ketua Persatuan Tunanertra Indonesia (Pertuni) NTB, saat ditemui di kediamannya. Senin (08/03/2021). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Perempuan adalah 80 persen pewarna masa depan, ungkap Fitri Nugraha Ningrum. Ia lahir dengan keistimewaan. Ia memiliki tekad yang kuat untuk merangkul kesetaraan bagi disabilitas, terutama tunanetra di NTB. Sejak 2015, ia dipilih sebagai ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di wilayah NTB.

Walaupun dengan keterbatasan yang ia punya, ia juga mampu mendirikan yayasan SAMARA Lombok yang sudah berdiri sejak tahun 2011 silam. Tujuannya mendirikan yayasan itu untuk dapat mengembangkan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Ini didedikasikan kepada masyarakat yang inklusi atau berkebutuhan khusus. Di halaman rumahnya pun ia mendirikan sebuah PAUD inklusi. Di sana ia juga mendidik murid yang downsindrom dan hyperaktif.

Selain untuk belajar, di sana juga setiap sore dimanfaatkannya sebagai TPA (Taman Pendidikan AlQuran). Ini dengan tujuan dapat membentuk anak-anak yang baik dan berbudi luhur.

Tidak puas sampai di sana, perempuan yang bergelar Magister Pengembangan Masyarakat ini pun kini tengah mempersiapkan dirinya untuk menempuh pendidikan S3 di Amerika Serikat. Ia baru saja memperoleh beasiswa.

“Kalau selesai pandemi InsyaAllah saya berangkat ke luar negeri kuliah lagi” katanya.

Ia mengaku seharusnya ia sudah berangkat Juni tahun 2020, namun harus tertunda karena pandemi covid-19 saat ini. Walaupun ada pilihan untuk mengikuti perkuliahan secara virtual. Ia mengaku tidak mengambil itu karena lebih tertarik untuk bisa merasakan pembelajaran secara langsung.

“Ada tawaran kuliahnya virtual, tapi saya ndak mau karena saya kan buta. Kalau virtual hanya lewat suara kan gak bisa ngerasain negaranya, jadi saya pengen langsung” ungkap dia.

Perempuan yang besar di Solo ini, pun mengaku motivasinya mendirikan sekolah inklusi itu berawal dari kesenangannya terhadap anak kecil. Sehingga ia ingin tidak ada lagi labelisasi terhadap seluruh anak apapun latar belakangnya.

“Karena saya senang anak, saya pengen jangan sampai anak itu dilabelin. Ini anak yatim, anak jalanan, anak cacat, itu seharusnya jangan pernah disebutkan kepada mereka” tegas perempuan luar biasa ini, saat ditemui di kediamannya di Kediri, Senin (08/03/2021).

Karena label dinilai dapat membentuk karakter mereka ketika besar nanti. Sementara, menurutnya semua anak punya potensi dan sama-sama punya masa depan.

“Ini lah yang kami inginkan di SAMARA Lombok, supaya mereka menghargai perbedaan” harapnya.

Karena ia tidak ingin, apa yang pernah dialaminya ketika awal menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa melihat, jangan sampai menimpa anak-anak berkebutuhan khusus lainnya. Bila diskriminasi seperti itu dibiarkan, Fitri menyebut, rasa minder itu akan sangat memilliki pengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan seorang anak.

“Di samping itu, sebenarnya saya itu pengennya pemberdayaan masyarakat, anak-anak yang lulus SMA sederajat itu bisa menularkan ilmunya di sini (Paud inklusi SAMARA Lombok)” ungkap dia.

“Tapi hal itu sampai sekarang sulit, banyak yang lebih pilih bekerja ke luar daripada membangun kampungnya sendiri” katanya dengan nada sedih.

Namun, ia sebagai perempuan mengaku bersyukur karena suaminya mendukung penuh setiap langkah dan keputusan besar yang diambilnya. Semangatnya yang kuat untuk merangkul teman-teman yang berkebutuhan khusus yang selama ini banyak mendapat diskriminasi dari masyarakat, membuatnya tiada henti untuk merangkul dan memberi semangat.

“Artinya inklusi kan tidak hanya masyarakat biasa tapi juga seluruh masyarakat indonesia tanpa ada perbedaan dan pembedaan” harap Fitri.

Fitri dengan tegas mengatakan bahwa menjadi perempuan tidak membuatnya terkendala dalam menjadi ketua Pertuni. Namun yang menjadi kendala justru finansial karena selama ini ia merasa, disabilitas di NTB termasuk tunanetra masih kurang digandeng oleh pemerintah.

“Saya sangat menentang apa-apa itu harus mengandalkan donatur. Sementara disabilitas di sini itu kan punya keterbatasan, mulai dari mobilitas juga” ketusnya.

Sehingga ia berharap, pemerintah daerah maupun provinsi bisa lebih ramah terhadap disabilitas. Ia pun tak lupa berpesan, karena perempuan penting dalam kehidupan, sehingga menjadi perempuan harus pandai menghargai waktu dan mengasah potensi diri.