Papuk Sol, Sesepuh dan Ikon Tenun Desa Sade Meninggal Dunia

Papuk Sol merentangkan kain hasil tenunannya di Desa Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. (Inside Lombok/Istimewa dari Adhy Nata)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Ikon tenun desa wisata adat Sade Rembitan, Papuk Sol meninggal dunia di usia sekitar 90 an tahun.

Hal ini tentu membuat industri tenun di Lombok Tengah khususnya desa wisata adat Sade berduka. Papuk Sol meninggal dunia pada Selasa (12/1/2021) sekitar 10:00 WITA.

“Beliau memang ikon desa Sade. Meninggal tadi pagi. Dan beliau sakit sudah satu Minggu. Sakit orang tua karena beliau sudah uzur,”kata Kades desa Rembitan, Lalu Minaksa.

Dia mengatakan, Papuk Sol dimakamkan di salah satu Tempat Pemakaman Umum (TPU) terbesar di desa Rembitan. Papuk Sol selama ini dikenal sebagai icon desa wisata adat Sade. Karena merupakan salah satu pengerajin tenun yang serba bisa, mulai dari proses pembuatan benang hingga proses mewarnai dan menenun.

“Jadi beliau ini sebagai guru kita semua di desa Sade dan Rembitan umumnya untuk proses pembuatan benang sampai pewarna dan menenun di desa kami,”katanya.

Wisatawan domestik dan mancanegara yang datang berkunjung ke desa Sade juga kerap mengabadikan gambar Papuk Sol yang sedang membuat benang dan juga menenun.

“Banyak wisatawan sering foto-foto beliau di saat beliau sedang melakukan kegiatan benang dan segala macam. Itu salah satu sumbangsih beliau terhadap pertumbuhan wisata di desa Rembitan,”tuturnya.

Karena itu, meninggalnya Papuk Sol sampai ke telinga wisatawan yang pernah datang berkunjung ke desa Sade. Salah satunya di antaranya bahkan menelpon keluarga Papuk Sol dan mengirim sejumlah uang duka.

“Karena dia dulu pernah berfoto dengan Papuk Sol di Sade,”tutur Minaksa.

Papuk Sol memang dikenal ramah kepada siapapun yang ada dan datang ke desa Sade. Papuk Sol juga humoris dan mudah bergaul dengan wisatawan. Meski sudah berusia senja, Papuk Sol nampak sehat dan sudah menenun selama puluhan tahun.

Dengan meninggalnya Papuk Sol, maka ikon desa wisata adat Sade menjadi berkurang. Namun demikian, ada juga sejumlah perempuan di desa Sade yang juga memiliki pengetahuan cukup bagus seperti Papuk Sol. Termasuk anak- anak perempuan yang dimiliki oleh Papuk Sol.

“Ada juga tokoh ibu-ibu kami di dusun Sade dan dusun lain yang masih ada. Cuma yang sering diekspos itu beliau,”imbuh Minaksa.

Selain itu, adat yang ada di desa Rembitan terutama di Sade adalah untuk remaja putri yang telah menginjak bangku kelas VI SD diwajibkan untuk belajar menenun. Hal itu adalah bentuk kearifan lokal.

“Sehingga muncul kepercayaan di masyarakat kami kalau remaja putri tidak boleh makan sayap ayam karena kalau sering makan sayap ayam tidak bisa menenun,”katanya.