BMKG Ajak Pelaku Pariwisata Pahami Informasi Cuaca dan Iklim

Staf Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Lombok Dhian Yulie saat menjelaskan tentang cara kerja alat pendeteksi hujan obs, Kamis (26/09/2019). (Inside Lombok/Linggauni)Staf Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Lombok Dhian Yulie saat menjelaskan tentang cara kerja alat pendeteksi hujan obs, Kamis (26/09/2019). (Inside Lombok/Linggauni)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak semua pelaku pariwisata agar memahami informasi tentang cuaca dan iklim. Hal ini dianggap dapat membantu para pelaku pariwisata di NTB untuk dapat merencanakan perjalanan wisata yang aman bagi tamunya.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan bahwa ada banyak hal yang dapat dilakukan dengan mengetahui informasi terkait cuaca dan iklim. Tidak hanya pariwisata, termasuk pula sektor pertanian dan transportasi.

“Para pelaku pariwisata bisa memanfaatkan informasi tentang cuaca dan iklim ini untuk bisa merencanakan perjalanan wisata yang aman dan nyaman bagi wisatawan,” ujarnya saat membuka kegiatan Mosaic yang diselenggarakan di salah satu hotel di Lombok Barat.

Ia melihat bahwa informasi tentang iklim dan cuaca sangat penting di Lombok, NTB. Sebab Lombok merupakan destinasi wisata yang kini banyak dikunjungi wisatawan. Sehingga informasi itu dapat digunakan sebagai langkah antisipasi bagi semua pihak.

Dalam kegiatan Mosaic ini, ada beberapa hal yang dibahas. Para pemateri memberikan informasi terkait cuaca dan iklim kepada 34 peserta yang hadir. Para peserta mewakili pelaku pariwisata, aktivis sampah, trekking organizer, media, mahasiswa hingga guru.

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saefudin dalam sambutannya berharap para peserta Mosaic dapat lebih memahami tentang dinamika cuaca.

Materi juga disampaikan oleh Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Nurhayati. Ia menjelaskan tentang tipe-tipe iklim. Beberapa diantaranya ialah dipengaruhi oleh Monsun Asia dan Monsun Australia. Di NTB sendiri, seringkali musim kemarau lebih panjang daripada musim hujan. Hal ini dipengaruhi oleh Monsun Australia. Meski pada umumnya, Indonesia dipengaruhi oleh Monsun Asia.

Sementara itu, Kasubid Prediksi Cuaca BMKG M. Fadli menyampaikan informasi tentang perbedaan cuaca dan iklim. Sedangkan pemateri Sefri Ayuliana memberikan informasi tentang Impact Based Forecast (IBF). Bertujuan untuk mengetahui dampak-dampak yang sekiranya dapat ditimbulkan pada saat perubahan cuaca dan iklim.

Kegiatan Mosaic di Lombok ini berlangsung selama tiga hari, yaitu 24-26 September 2019. Para peserta juga berkesempatan untuk belajar tentang cara kerja dalam mengamati cuaca dan iklim di Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Lombok.