Gawah Lendang – Puisi Ziadah Ziad

ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani

Payas

rambut puan—hitam pekat
mengembang langit berasi ursa,
kau tunjuk lurus di petang malam,
letup nyala keramatkan doa.

rambut puan—kuning bulir padi
padanya bermukim matahari pagi, hangat
ramah, memenuhi rumah.
kenyang, makan senang.

rambut puan—merah kuat
panjang mengulur kasih ke lautan
lembut berombak mendorong perahu,
pelan-pelan ke tujuan.

rambut puan—hijau hutan
menahan benalu,
daun-daun segar mekar melingkar,
bunga, duri, menjadikannya mawar.

rambut puan—putih parka
padanya tersimpan suci cerita
tangan-tangan bakti yang membelainya.

sebab pulau tempat kami lahir, dibesarkan adalah payas,
bagian atas kepala puan yang menenggelamkan
hampir seluruh tubuhnya di lautan.

 

Gawah Lendang

angin laut tiba di bukit-bukit bergelombang, menyisir daun-daun pepohonan sambil menerjemahkan bunyi sepi.

anak-anak mengumpulkan ranting jadi bara kasih, ibu-ibu memanggul umbi, ungu, putih, merah muda berisi kisah, tinggalkan ribuan jejak memandu hidup, antara kelakar semak belukar.

gadis-gadis mencari rahmat pakis, hijau lengkung ke dalam diri, tegak menghadap cabang gairah deras sungai. bila biji keringat merintik, di balik batu, mereka mandi bak bidadari.

di antara kanopi, mengarus gemericik nira ke tubuh bambu. bening diramu dingin tangan hutan. di bawahnya, ayah duduk menunggu manis.

lama, hutan terbuka jadi dua, gawah lendang, lendang gawah, siapa punya, akankah tetap jadi milik kita?

 

Semeti

dengarlah raung risau batu basal dihantam ombak,
berlutut di hadapan laut,
menyimpan tahun-tahun dalam kolumnar dari beku amarah moyang:
gunung timur yang menamatkan.

dengarlah raung risau batu basal dihantam ombak
deru igau air menggetarkan silam,
luruh percik menguap cerita
tentang lekuk beliung, pedang-pedang pembunuh binatang dan lima raja.

dengarlah raung risau batu basal dihantam ombak
kandung rungu aksara purba
sebab padanya sejarah tabah
tulis darah masa lalu kita.

dengarlah raung risau batu basal
sebab di dalamnya kenangan mengeras
bersekutu dengan waktu, jelma bukit-bukit batu; Semeti
didaki kaki-kaki bani
digenggam erat tangan-tangan niat.

 

Sempana

di lapang tubuh Sempana,
kerbau-kerbau menikmati rumput basah,
embun titik-titik,
baswara, bulir kaca
pengembala melamun jadi pujangga,
tulus
rumuskan sepi dalam metafora.

 

 

Ziadah Ziad, lahir dan dibesarkan di Pulau Lombok. Suka menulis dongeng dan puisi. Pernah bekerja di koran kecil di Iowa. Sekarang ia bekerja sebagai penulis, penerjemah lepas dan guru Bahasa Inggris. Buku-buku anak yang ia tulis dan telah diterbitkan adalah Petualangan Anjani oleh GIZ Indonesia dan ASEAN, picture-book berjudul Ijo Balit dan Sepasang Sungai oleh INOVASI, dan Aku Anak Gili oleh Enjoy Life dan Ethical Coach.