Raniya, Bocah Penderita Kanker Darah Asal Mataram Ini Butuh Bantuan

Raniya bersama ibunya, Ardhiyanti (Inside Lombok/Istimewa).

Mataram (Inside Lombok) – Alma Raniya Putri Hermawan, anak berusia 8 tahun ini menderita kanker darah atau Leukimia Limfoblastik akut tipe L2 (LLA-L2). Ia telah didiagnosa dengan penyakit ini sejak 14 Juni 2017 lalu.

Rani yang sebelumnya lahir dan tinggal di Mataram, memutuskan untuk tinggal di Malang untuk menjalankan masa pengobatan di Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. Ia dirawat di rumah sakit itu sudah sekitar dua tahun sejak bulan Juni 2017 lalu.

“Ini awal diagnosis sampai kemoterapi, ketahuan kambuh (relapse) dan resisten juga di sini (Malang),” ujar ibunya, Ardhiyanti kepada Inside Lombok, Jumat (17/05/2019).

Setelah terdiagnosa menderita kanker darah, Rani segera mulai menjalankan kemoterapi. Hingga pada tanggal 8 Agustus 2017, Rani menjalankan BMP kembali dengan hasil sel kanker yang ada di tubuhnya kurang dari 5 persen.

Ardhiyanti mengatakan bahwa sejauh ini Rani telah menjalani BMP atau biopsi sumsum tulang belakang sebanyak 5 kali sejak pertama kali didiagnosa. Sementara itu, Rani sudah melewati sekitar 117 minggu untuk kemoterapi.

“Perawatan di rumah sakit hanya kalau kondisinya drop sekali, seperti butuh transfusi, intake buruk atau demam tidak turun-turun. Selebihnya di rumah saja karena dokternya juga menyarankan membuat dia nyaman dan tidak stress,” jelasnya.

Selama masa pengobatan Rani, Ardhiyanti menggunakan BPJS. Ia memilih perawatan VIP untuk Rani agar meminimalisir infeksi dan stress yang akan dirasakan Rani sehingga ia harus tetap menanggung biaya tersebut sendiri, termasuk obat kemoterapi.

Bulan Februari 2019 lalu Rani sempat merasakan gejala awal penyakitnya mulai kambuh kembali seperti demam dan rasa nyeri pada tulang. Pada saat itu ia langsung melakukan pemeriksaan dan Rani dinyatakan kambuh pada bulan Maret 2019 lalu.

“Siklus kemoterapi yang awal distop dan dilakukan kemoterapi ulang dengan protokol baru mulai Maret,” lanjut Ardhiyanti.

Pada tanggal 8 Mei 2019, Rani melakukan BMP ulang dan hasil setelah induksi menunjukkan bahwa ternyata sel kanker dalam tubuhnya tidak berkurang namun justru bertambah. Sehingga Rani didiagnosa kebal terhadap kemoterapi atau kemoresisten.

Karena sel kanker sudah bertambah 80 persen, maka satu-satunya jalan untuk Rani bisa pulih yaitu dengan melakukan transplantasi sumsum.tulang belakang. Proses pengobatannya pun hanya bisa dilakukan di luar negeri terdekat, baik itu Singapura atau Malaysia.

“Sebenarnya (untuk transplantasi) lebih cepat lebih baik. Tapi ini belum ada jawaban dari pihak rumah sakit rujukannya,” imbuhnya.

Namun, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan transplantasi bisa mencapai Rp5 miliar. Sehingga keluarga Rani memutuskan untuk buka donasi melalui link berikut https://m.kitabisa.com/ranikuat karena biaya tersebut sangat mahal untuk ditanggung sendiri.

Melalui transplantasi sumsum tulang belakang inilah yang menjadi harapan utama keluarga Rani agar ia bisa dapat bersekolah dan dapat menekuni bakat menggambarnya kembali. Terakhir Rani bersekolah yaitu ketika ia masih duduk di kelas 1 SD.

“Sejak didiagnosis kambuh itu dia sudah tidak masuk sekolah, untuk bergerak saja nyeri sekali,” pungkas Ardhiyanti.