Museum NTB Gelar Shaum Bertema “Al-Quran, Pendidikan dan Kebangkitan”

162
Suasana salat tarawih dalam program Shaum di Museum yang digelar Museum Negeri NTB, Kamis (23/05/2019) (Inside Lombok/Bayu Pratama)

Mataram (Inside Lombok) – Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) bekerjasama dengan Kelompok Hikayat Suluk menggelar program bertajuk Shaum di Museum, Kamis (23/05/2019). Program tersebut ditujukan untuk mewarnai bulan Ramadan 1440 Hijriah (2019 Masehi) dengan mendekatkan kembali nilai-nilai kearifan lokal melalui media seni, khususnya musik.

Ketua Kelompok Hikayat Suluk, Erwin Quintyasmoro, menerangkan bahwa program Shaum di Museum kali ini diberi tema “Al-Quran, Pendidikan dan Kebangkitan” yang mana merujuk pada dua momentum nasional yang juga jatuh pada Ramadan kali ini.

“Selain bulan Ramadan, ini juga bulan Mei. Bulan Mei itu ada dua momentum nasional. Ada hari Pendidikan Nasional dan hari Kebangkitan Nasional, sehingga tema kita kali ini adalah Al-Quran, Pendidikan, dan Kebangkitan,” ujar Erwin saat ditemui Inside Lombok, Kamis (23/05/2019) di tengah-tengah kegiatan.

IMG 20190524 WA0003

Kelompok Hikayat Suluk mementaskan beberapa gubahan musik dari ayat Al-Quran pada acara Shaum di Museum di Museum Negeri NTB, Kamis (23/05/2019) (Inside Lombok/Bayu Pratama)

Kelompok Hikayat Suluk sendiri akan mencoba menampilkan pertujukan musik yang akan mengupas dan menguraikan isi dari Al-Quran Surat Maryam ayat 12 sampai dengan 17. Surat Maryam sendiri dipilih karena memang berbicara tentang pendidikan, yang mana sesuai dengan tema program.

“Bagaimana kita bicara pendidikan dan kebangkitan itu mengacu pada Al-Quran. Itu ada di Surat Maryan 12-17,” ujar Erwin.

Selain itu, Erwin juga menerangkan bahwa rangkaian acara program Shaum di Museum tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Ketika tahun lalu acara dimulai setelah salat tarawih, tahun ini acara dimulai sejak sebelum berbuka puasa. Hal itu disebut Erwin untuk menarik minat peserta untuk sama-sama melaksanakan buka puasa sampai dengan salat tarawih di lokasi acara.

“Shaum di Museum kali ini dikemas dengan rangkaian acara berbuka puasa bersama, salat magrib, salat isya, tarawih, kemudian pentas seni. Pentas seni itu sendiri menjadi pengganti dari khotbah pada jeda tarawih,” ujar Erwin.

Kelompok Hikayat Suluk sendiri adalah sebuah kelompok dari berbagai latar belakang profesi dan budaya yang memiliki visi untuk berdakwah melalui kesenian. Hal itu didasarkan pada banyaknya nilai-nilai nenek moyang yang perlu dijaga. Media yang diambil sendiri antara lain tembang, puisi, dan lagu dengan berbagai genre seperti pop, gambus, dan kroncong.

IMG 20190524 WA0005

Kepala Museum NTB, Zubair Muslim menyampaikan pengantar pada acara Shaum di Museum, Kamis (23/05/2019) (Inside Lombok/Bayu Pratama)

Sebelumya Kepala Museum Negeri NTB, Zubair Muslim, menerangkan bahwa program Shaum di Museum dibuat untuk mendekatkan museum kepada masyarakat sekaligus mengisi waktu pada bulan Ramadan dengan sentuhan museum.

“Sentuhan itu kami bentuk lewat seni, dakwah, pendidikan, dan kebangkitan,” ujar Zubair.

Menurut Zubair, hal itu penting mengingat banyaknya pelajaran yang bisa diambil melalui hikayat serta nilai-nilai filsafat yang ditinggalkan oleh para leluhur. Dimana semua itu masih bisa dilihat kembali salah satunya melalui koleksi-koleksi yang dimiliki museum.