Lombok Utara (Inside Lombok) – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Lombok Utara (KLU) turun menjadi 13,57 persen hingga Agustus 2025. Capaian ini berada di bawah target nasional sebesar 14 persen, menunjukkan keberhasilan pemerintah daerah dalam menekan angka stunting secara signifikan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) KLU, dr. H. Lalu Baharudin, menyatakan penurunan tersebut merupakan hasil kerja kolektif dan intervensi lintas sektor yang konsisten. “Penurunan ini adalah buah dari kerja kolektif dan intervensi lintas sektor yang konsisten. Artinya posisi kita sudah bagus dan menunjukkan tren penurunan yang konsisten,” ujarnya, Jumat (31/10).
Namun, data Dinkes KLU berbeda dengan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang mencatat angka stunting di daerah itu mencapai 35,2 persen. “Perbedaan angka ini akan menjadi bahan untuk sinkronisasi dan penyamaan persepsi data antara daerah dan pusat. Namun, yang terpenting, intervensi kita berdampak positif,” katanya.
Dinkes KLU mengidentifikasi penyebab utama stunting masih berkaitan dengan pola asuh dan pemenuhan asupan gizi keluarga. Kecamatan Senaru tercatat memiliki angka stunting tertinggi sekitar 20 persen, sedangkan Kecamatan Bayan menunjukkan penurunan hingga 13 persen. Menyikapi hal itu, Pemerintah Kabupaten KLU kini memprioritaskan penguatan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok rentan, termasuk bayi, balita, dan ibu hamil.
“Kami ingin memastikan makanan bergizi di program MBG ini benar-benar layak konsumsi dan memenuhi standar kesehatan. Fokusnya tidak hanya untuk anak sekolah, tapi juga untuk ibu hamil dan bayi,” jelas Baharudin.
Sebagai upaya menjaga kualitas program, Dinkes KLU memperketat pengawasan dapur penyelenggara MBG dengan mewajibkan sertifikasi Sanitasi, Lingkungan, Higiene, dan Sanitasi (SLHS). Dari 11 dapur yang beroperasi, 10 di antaranya telah mengajukan proses sertifikasi. Setelah sertifikat diterbitkan, Puskesmas akan melakukan kontrol rutin bulanan untuk memastikan standar kebersihan dan gizi terpenuhi.
“Semua aspek kami nilai, mulai dari kebersihan dapur, pengelolaan limbah, kesehatan petugas, hingga kecukupan gizi makanan. Kami siap membantu lewat edukasi dan pelatihan. Kami juga optimistis angka stunting di KLU akan terus menurun,” pungkasnya.

