Thursday, January 27, 2022
  Mungkin karena dulu di sekolah para guru mengajarkan untuk selalu tenggang rasa, saya jadi sering memposisikan diri sebagai orang lain. “Coba bayangkan jika diri kalian adalah orang itu. Apa yang kalian rasakan? Apa yang kalian pikirkan?” Begitulah para guru...
Puisi Malam Hari Hinggap di rambutmu sebagai lalat, Yang kau usir dengan sentuhan kasar, Dari tangan yang gersang kasih, Menyepak tubuh ringkih, Sejauh mungkin dan tak kembali, Sebab sibuk hati menyusun lagi, Wajah lamur tak dikenali, Menjelma puisi malam hari. Jakarta, 2022 Tutup Buku Setiap halaman, Sudah ada wajahmu, Dari tawa meramu...
Seikat bunga digenggam erat-erat oleh Paksi yang masih merasakan ngilu di hati. Sudut jiwa meremang sebab rasa sakit yang menghujam. Andaikan hati ini bukan buatan Tuhan, sudah pasti meledak dan tak lagi berbentuk hati. Tegak Paksi berdiri. Bukan lagi...
Lelampu Jalan, Mati Sebuah jalan, sebuah lorong panjang Bagai malam Perjalanan melintas dan lelampu jalan, mati Detik-detik menuju si buta Meraba, tanpa tongkat pegangan Tanpa sebuah petunjuk Tak ada sesiapa berpapasan Perasaan direngkuh kegelapan Barangkali juga kepala membentur batang pohon Tanpa bayang-bayang Dapatkah menemukan ujung dari pengembaraan ini? Sehabis pesta cahaya...
Payas rambut puan—hitam pekat mengembang langit berasi ursa, kau tunjuk lurus di petang malam, letup nyala keramatkan doa. rambut puan—kuning bulir padi padanya bermukim matahari pagi, hangat ramah, memenuhi rumah. kenyang, makan senang. rambut puan—merah kuat panjang mengulur kasih ke lautan lembut berombak mendorong perahu, pelan-pelan ke tujuan. rambut puan—hijau hutan menahan benalu, daun-daun...

Tak Ada Kereta di Lombok

"Kereta api akan ada di Lombok." Ia mengatakan itu pada siapa saja yang ia temui. Meski tak pernah ada yang bertanya. Ia akan selalu bilang hal yang sama. Berulang-ulang. Ia kadang dianggap gila. Tapi ia sangat yakin, kereta api akan...