32.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok TimurTak Ada Jembatan Penghubung, Warga Seriwe Bertaruh Nyawa Seberangi Muara

Tak Ada Jembatan Penghubung, Warga Seriwe Bertaruh Nyawa Seberangi Muara

Lombok Timur (Inside Lombok) – Warga Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, masih menghadapi kesulitan akses akibat terpisahnya dua wilayah desa oleh muara yang langsung terhubung ke Samudra Hindia. Warga Dusun Penyonggok terpaksa menyeberangi muara menggunakan sampan atau berenang untuk mencapai Seriwe Induk yang menjadi pusat pemukiman dan pelayanan.

Baru-baru ini, video warga yang menggotong keranda jenazah di atas sampan untuk menyeberangi muara menuju tempat pemakaman umum di Seriwe Induk viral di media sosial. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak sekolah pun setiap hari harus menantang arus deras muara agar bisa bersekolah. Mereka kerap berenang sambil membawa buku dan tas di atas kepala saat air surut.

Kepala Desa Seriwe, Huda Yana, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut arus muara sangat berbahaya, terutama saat air pasang. “Arus di muara itu besar dan berbahaya. Kalau air pasang, anak-anak tidak bisa menyeberang. Mereka harus menunggu surut, baru bisa berenang atau berjalan kaki,” ujarnya.

Menurut Huda, pada tahun 2022 pemerintah desa sempat membangun jembatan bambu menggunakan anggaran APBDes Perubahan senilai Rp212 juta. Namun jembatan tersebut roboh pada tahun 2024 akibat angin puting beliung yang juga merusak rumah warga. “Sebelumnya sudah ada bantuan sampan untuk penyeberangan anak-anak sekolah, tapi sekarang juga rusak. Jadi mereka kembali kesulitan,” katanya.

Ia menambahkan, pihak desa tidak mampu membangun jembatan permanen karena biaya konstruksi sangat besar dan kondisi arus muara yang kuat tidak memungkinkan untuk menggunakan bahan bambu atau kayu. “Saya sudah sampaikan langsung kepada pak Bupati tentang kondisi ini. Beliau bilang InsyaAllah nanti Pemda yang akan bangun,” ungkapnya.

Hingga kini, warga Seriwe masih menunggu realisasi pembangunan jembatan permanen yang diharapkan dapat menghubungkan kedua wilayah desa. Sementara itu, aktivitas warga masih bergantung pada sampan seadanya, menantang arus setiap kali ingin bekerja, bersekolah, atau bahkan mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman.

- Advertisement -

Berita Populer