Lombok Utara (Inside Lombok) – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) menyatakan komitmen serius dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), meskipun saat ini masih berada di posisi terendah di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, IPM KLU pada 2025 tumbuh 1,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya, namun masih di bawah kategori 70.
Wakil Bupati KLU, Kusmalahadi Syamsuri, mengatakan rendahnya IPM menjadi pendorong bagi pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan yang lebih terarah dan melibatkan partisipasi masyarakat. “IPM kita sementara ini paling rendah di seluruh kabupaten/kota, tentu ini menjadi pemicu buat kita bagaimana membuat kebijakan dan mengajak masyarakat bersama-sama,” ujarnya, Selasa (11/11).
Data BPS menunjukkan rata-rata umur harapan hidup (UHH) di KLU mencapai 71,88 tahun, harapan lama sekolah (HLS) 13,16 tahun, dan rata-rata lama sekolah (RLS) 6,75 tahun. Sementara itu, pengeluaran riil per kapita per tahun tercatat sebesar Rp10,502 juta.
Kusmalahadi menegaskan, pemerintah daerah (Pemda) telah memiliki data dan rencana terperinci untuk mempercepat peningkatan IPM agar setara dengan daerah lain. “Memang saat ini kita masih di posisi paling bawah untuk IPM, tapi kita akan genjot terus,” katanya.
Selain peningkatan IPM, Pemda juga menaruh perhatian pada penurunan angka stunting yang mengalami lonjakan signifikan. Menurut Kusmalahadi, meski terjadi kenaikan persentase, Pemda tidak menjadikannya masalah, melainkan fokus pada langkah konkret untuk menekan kasus. “Tetapi kita tidak membuat itu menjadi sesuatu yang bermasalah, tapi tetap kita melakukan usaha-usaha agar angka stunting kita tetap turun,” terangnya.
Untuk mempercepat penanganan, Pemda berencana menggelar rapat kerja guna meningkatkan kinerja tim di lapangan. “Yang saya perhatikan sekarang kawan-kawan masih berjalan stagnan. Setelah kita genjot kembali, mudah-mudahan angka stunting kita, start-nya dari mana pun, kita akan coba turunkan,” pungkasnya. (dpi)

