Mataram (Inside Lombok) – Lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM) Universitas Mataram (Unram) menggelar Konferensi Internasional ke-10, Rabu (19/11). Konferensi ke-10 ini mengangkat tema tentang “Ilmu Bumi dan Lingkungan yang Inovatif, dan Kemajuan Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan: Menjembatani Ilmu Dasar dan Terapan di Wilayah Kepulauan.
Ketua Panitia the 10th International Conference on Science and Technology (ICST 2025), Mamika Ujianita Romdhini, Ph.D mengatakan dalam konferensi ini ada 225 peserta yang berasal dari berbagai negara. Kali ini sebanyak 11 negara ikut berpartisipasi yaitu Australia, Bangladesh, Prancis, Indonesia, Irak, Italia, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan Inggris.
Dari jumlah peserta tersebut, sebanyak 99 hadir secara langsung di lokasi. Sementara 126 bergabung secara online. Program hari ini mencakup 191 pemateri.
“Ini conference yang ke – 10 dilaksanakan oleh LPPM Unram. Tiap tahun kita mengikuti perkembangan termasuk kebijakan pemerintah termasuk kebijakan Unram,” katanya.
Ia mengatakan, tahun ini pembahasan dalam konferensi ini fokus tentang kepulauan. Ditengah perkembangan saat ini, bagaimana penerapan teknologi dan science bisa diterapkan di wilayah kepulauan di Indonesia.
“Jadi kita cari keynot speaker dari berbagai bidang tapi yang sesuai. Sehingga semua berkolaborasi dalam rangka mewujudkan penerapan teknologi di daerah kepulauan,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini sebanyak 191 akan mempresentasikan hasil penelitian yang sudah dilakukan. Dengan keterlibatan para pemateri bisa memperkuat sinergi dengan pengambil kebijakan baik yang ada di Unram, Pemda hingga Pemerintah pusat.
“Hasil penelitian ini sangat dibutuhkan untuk daerah-daerah kepulauan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala LPPM Unram, Dr Andi Chairil Ichsan mengatakan kegiatan yang dilakukan ini sebagai kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan nasional. Dengan keterlibatan 11 negara ini, maka kontribusinya juga tidak saja skala daerah melainkan secara global.
“Bagaimana isu-isu pengembangan teknologi khususnya berbasis science dan kita ingin merespon terkait persoalan-persoalan lingkungan global,” katanya.
Isu perubahan iklim dan lingkungan saat ini menjadi pembahasan secara global. Dimana isu ini ada keterkaitan dengan persoalan lingkungan. “Sebenarnya kita selesaikan masalah dari akarnya dulu. Kalau dari lingkungan kita bisa tata maka bisa berkorelasi ke sektor yang lain,” katanya.
Selain itu juga dari penelitian yang dilakukan di berbagai negara ini, bisa diimplementasikan di daerah. Sehingga memberikan kontribusi terhadap pesoalan lingkungan di daerah. “Mungkin saja bisa kita impelemtasikan di NTB,” katanya.
Pembahasan ini juga sebagai salah satu persiapan menuju net zero emisi. Dimana, NTB menargetkan net zero emisi pada tahun 2050 mendatang, lebih cepat dari target nasional yaitu tahun 2060.
“NTB berani naik 10 tahun untuk NZE. Bentuk kontribusinya itu nanti bisa dilihat dari hasil-hasil riset yang sudah kita kumpulkan,” tutupnya.

