Mataram (Inside Lombok) – Sejumlah penyandang disabilitas mengeluhkan masih terbatasnya peluang kerja di sektor swasta maupun pemerintah. Kondisi tersebut dialami lulusan baru asal Kecamatan Ampenan, Gawi, yang hingga sebulan setelah menyelesaikan kuliahnya belum memperoleh pekerjaan meski menjadi lulusan terbaik.
Gawi mengatakan peluang kerja bagi penyandang disabilitas masih sulit diakses. “Peluang kerja itu masih sangat terbatas. Jalannya juga bukan main sulitnya,” katanya Jumat (21/11) pagi. Ia menuturkan belum banyak menemukan lowongan yang dapat dilamar dan berharap pemerintah menyediakan pelatihan keterampilan bagi lulusan baru.
Menurutnya, berdasarkan jurusan yang ditempuh, ia semestinya menjadi guru. Namun saat ini syarat menjadi guru mengharuskan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). “Kan kalau PPG itu biasanya di luar. Tapi kalau ada di Mataram mau saya ikut karena itu selama enam bulan,” ujarnya.
Ia menambahkan peluang mengikuti PPG di daerah masih terbatas. “Ijazah saya punya harus jadi guru. Tapi harus PPG selama 6 bulan. Kalau di Unram bisa saya ikut. Tapi ini kebanyakan di luar,” katanya.
Gawi berharap penyandang disabilitas, terutama tunanetra, tidak hanya diarahkan pada pekerjaan tertentu seperti tukang pijit atau guru. Ia menilai perusahaan swasta perlu membuka kesempatan sesuai ketentuan kuota bagi penyandang disabilitas sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Untuk sementara, ia berupaya mengembangkan keterampilan yang dimiliki agar dapat menciptakan peluang kerja secara mandiri. “Jadi kita buat peluang kerja sendiri. Tapi saya berharap pemerintah memperdulikan para penyandang disabilitas bukan saja sektor pendidikan tapi juga peluang kerja yang layak supaya tidak jadi menjadi pengangguran terdidik,” tutupnya.

