25.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaLombok TimurBupati dan Wakil Bupati Lotim Jadi Simbol Harmonisasi di Pesona Budaya 7...

Bupati dan Wakil Bupati Lotim Jadi Simbol Harmonisasi di Pesona Budaya 7 Pengadangan

Lombok Timur (Inside Lombok) – Gelaran Pesona Budaya 7 Pengadangan yang berlangsung pada 10–26 November 2025 mengangkat tema “Metu Telu” sebagai simbol harmonisasi antara hukum agama, hukum adat, dan hukum pemerintahan. Untuk pertama kalinya, Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur (Lombok Timur) dilibatkan sebagai ikon harmonisasi dalam salah satu rangkaian acara di desa tersebut.

Acara budaya tahunan ini dikenal kuat dengan tradisi masyarakat Pengadangan dan rutin menarik perhatian berbagai pihak. Pada penyelenggaraan tahun ini, masyarakat menekankan pentingnya harmoni dalam hubungan antar sesama, antara masyarakat dan pemerintah, serta antara masyarakat dengan nilai-nilai adat dan agama yang dianut.

Salah satu penggagas Pesona Budaya Pengadangan, Amrul Arahap, menjelaskan bahwa Metu Telu merupakan falsafah leluhur Sasak yang menempatkan keseimbangan tiga pilar sebagai dasar kehidupan. “Metu Telu adalah falsafah agung warisan leluhur Sasak yang menempatkan keharmonisan dan keseimbangan sebagai inti dari tatanan hidup,” ucapnya, Sabtu (22/11/2025).

Ia menambahkan bahwa konsep tersebut berdiri di atas tiga poros, yakni hukum agama, hukum pemerintahan, dan hukum adat, yang saling menopang dalam menjaga masyarakat tetap bersatu. “Metu itu artinya Lahir dan Telu artinya Tiga. Itu bukan tentang orang solat 3 kali sehati melainkan falsafah Sasak atau hukum 3 seperti lahir, hidup, dan mati,” jelasnya.

Menurut Amrul, keterlibatan Bupati dan Wakil Bupati Lotim dalam rangkaian acara dimaksudkan sebagai pesan bahwa nilai-nilai kearifan lokal, ketika dijalankan selaras dengan hukum agama dan pemerintahan, akan memperkuat kehidupan sosial masyarakat. Ia menyatakan bahwa harmoni perlu terus dirawat sebagai energi pemersatu di tengah dinamika zaman.

“Jika ini terjadi maka harmoni bukan hanya menjadi cita-cita, tetapi menjadi kenyataan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.

Salah satu rangkaian kegiatan yang akan ditampilkan adalah Lakon Midang, yang menggambarkan cara masyarakat zaman dahulu dalam memperjuangkan cinta. Amrul menegaskan bahwa Midang tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antara pria dan wanita, tetapi sebagai simbol keselarasan untuk mencapai tujuan bersama.

“Nanti di sana Bupati dan Wakil Bupati ikut mengambil peran dengan menumbuk padi bersama dalam satu wadah. Kami ingin mereka berdua menjadi contoh untuk saling menguatkan dalam harmoni dengan berjalan selaras, seayun selangkah, dan untuk mencapai tujuan bersama demi masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan Pesona Budaya 7 Pengadangan dijadwalkan berlanjut hingga penutupan pada 26 November 2025 dengan sejumlah agenda yang menonjolkan nilai adat dan tradisi lokal.

- Advertisement -

Berita Populer