Lombok Timur (Inside Lombok) – Dinas Sosial (Dinsos) Lombok Timur (Lotim) melakukan assessment terhadap kondisi Papuk Nuriyah, seorang lansia di Kota Selong yang hidup dalam keterbatasan dan belum menerima bantuan sosial. Hasil pendataan menunjukkan Papuk Nuriyah terdaftar dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dengan status Desil 5, sehingga belum masuk prioritas bantuan PKH maupun Sembako dari pemerintah pusat.
Plt Kepala Dinsos Lotim, Muhammad Tasywiruddin, mengatakan assessment dilakukan pada Rabu, 26 November 2025, bersama pendamping PKH setempat. Ia menyebut Papuk Nuriyah tinggal di rumah dengan kondisi atap bocor bersama tiga kepala keluarga.
“Kebutuhan sehari-hari Ibu Inaq Nuriyah saat ini ditanggung oleh anak-anaknya. Masalahnya, meskipun beliau masuk DTKS dan kondisi rumahnya memprihatinkan, status Desil 5 ini menempatkan beliau dalam kategori yang belum prioritas untuk program PKH atau Sembako dari Pusat,” jelasnya.
Tasywiruddin menjelaskan, sejumlah intervensi yang telah dilakukan, termasuk koordinasi dengan Kepala Lingkungan terkait administrasi kependudukan dan upaya Sanggah Desil melalui pendamping PKH.
“Kami sedang mengupayakan Sanggah Desil. Walaupun usia beliau di atas 60 tahun yang seharusnya mendapat pengecualian di PKH, status Desil 5 ini membuatnya tidak bisa otomatis masuk program. Dengan Sanggah Desil, kami berharap Desil beliau bisa turun, dan peluangnya menerima bantuan PKH atau Sembako menjadi lebih besar,” ujarnya.
Ia menegaskan keterbatasan kuota bantuan sosial dari pemerintah pusat masih menjadi kendala utama. Data Dinsos mencatat sebanyak 22.442 kepala keluarga di Lotim yang berada di Desil 1 belum menerima bantuan program Sembako.
“Program bansos dari Pemerintah Pusat berlaku sistem urutan karena kuota terbatas. Artinya, kita harus memprioritaskan yang Desil 1 dan 2 dulu, sebelum menjangkau Desil 5,” tegasnya.
Dinsos Lotim berkomitmen memperbaiki data kesejahteraan melalui musyawarah tingkat desa dan kelurahan, mendorong graduasi mandiri bagi KPM yang ekonominya membaik, serta mengoptimalkan program bantuan yang bersumber dari APBD.
“Dengan sinergi data dan optimalisasi sumber daya daerah, kami berharap tidak ada lagi keluarga yang luput dari perhatian, terutama mereka yang masuk kategori Desil miskin ekstrem,” pungkas Tasywiruddin.

