Lombok Timur (Inside Lombok) – Dinas DP3AKB Lombok Timur (Lotim) bersama tim ahli BKKBN melakukan FGD dan kunjungan lapangan di Sembalun untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu menyusui, balita, dan batita berjalan optimal, Jumat (5/12). Langkah ini dilakukan guna menekan angka stunting di wilayah yang masih mencatat kasus meski dikenal sebagai sentra pangan.
Program nasional MBG 3B menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Sembalun dipilih sebagai lokasi pendalaman karena masih menghadapi persoalan stunting. Kepala DP3AKB Lotim, dr. Hasbi Santoso, mengatakan ketersediaan fasilitas menjadi kendala utama pelaksanaan program.
“Idealnya tiga dapur dibutuhkan, sementara saat ini baru dua yang benar-benar beroperasi untuk melayani enam desa,” ujarnya.
Selain infrastruktur, ia menyoroti lemahnya pengelolaan data primer keluarga yang berdampak pada pendampingan TPK. “Ini bukan persoalan tidak bekerja, hanya saja kinerja mereka perlu dioptimalkan. Terutama terkait data primer, karena selama ini kita masih mengandalkan data sekunder,” tegasnya.
Penyuluh KB Ahli Utama BKKBN, Siti Fatonah, menegaskan kunjungan tersebut bertujuan mengevaluasi efektivitas kinerja TPK dalam mendampingi keluarga sasaran. Ia menyoroti kekurangan protein hewani sebagai faktor yang berkontribusi terhadap stunting di Sembalun.
“Program ini bukan sekadar membagikan makanan, namun membangun perubahan perilaku keluarga dalam penyediaan menu bergizi di rumah,” jelasnya.
Dr. Hasbi juga memperkirakan kasus stunting di Sembalun berada di kisaran 12 persen atau sekitar 3 persen dari total penduduk. Untuk memperkuat program, DP3AKB mendorong penyusunan SOP bagi TPK serta peningkatan koordinasi dengan provinsi dan BKKBN. Dengan penguatan fasilitas, data, dan pendampingan, Pemerintah Kabupaten Lotim berharap Program MBG 3B dapat berkontribusi signifikan dalam percepatan penurunan stunting di Sembalun.

