Mataram (Inside Lombok) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Fokus utama diarahkan pada peningkatan produksi pangan lokal serta pengendalian komoditas penyumbang inflasi seperti cabai dan bawang merah.
Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi NTB, L. Moh. Faozal, menyampaikan bahwa meskipun NTB memiliki kapasitas produksi pangan yang tinggi, inflasi pangan masih kerap terjadi. Ia menilai pentingnya pemetaan produksi antarwilayah dan penyusunan regulasi tata kelola komoditas untuk mengurangi disparitas harga. TPID juga diminta memperkuat kerja sama antar daerah, memastikan kelancaran distribusi, serta melakukan pemantauan pasar secara berkala.
“Selain itu, edukasi dan produksi jangka panjang serta dukungan teknologi, karena penggunaan teknologi penyimpanan untuk memperpanjang usia simpan hasil produksi,” ujarnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, melaporkan bahwa hingga November 2025 tekanan inflasi NTB masih berada dalam sasaran 2 ± 1 persen. Pada November, inflasi tercatat 0,34 persen (mtm), 2,74 persen (yoy), dan 2,27 persen (ytd).
Ia menjelaskan bahwa normalisasi cuaca pasca-El Nino berpotensi mempengaruhi pergerakan harga pangan strategis. Berdasarkan tren historis, harga cabai, bawang merah, daging, dan telur ayam diperkirakan meningkat pada akhir tahun.
Untuk menjaga stabilitas harga, TPID diminta mengantisipasi komoditas fluktuatif melalui gerakan pasar murah yang tepat lokasi, waktu, dan sasaran, serta mengendalikan harga transportasi dan komunikasi publik. Penguatan cadangan pangan pemerintah daerah juga menjadi prioritas.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, Aidy Furqan, menyampaikan bahwa stok Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) pada 2025 mencapai lebih dari 275 ton di seluruh kabupaten/kota. Ia menambahkan bahwa penguatan lumbung pangan masyarakat diperlukan untuk menjaga kemandirian dan stabilitas pasokan.
Pemerintah daerah juga memperkuat pengawasan harga, terutama beras yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi, serta memastikan distribusi tetap efisien melalui analisis rantai pasok dan pemendekan jalur distribusi.

