Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota Mataram mewaspadai potensi tekanan inflasi menjelang akhir tahun akibat lonjakan kebutuhan daging ayam untuk program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama setelah 35 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai beroperasi. Data Dinas Perdagangan menunjukkan satu dapur MBG membutuhkan pasokan daging ayam hingga tiga kali per minggu dengan volume lebih dari satu ton.
Asisten II Setda Kota Mataram, Miftahurrahman, mengatakan tingginya kebutuhan daging ayam menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu stabilitas pasokan di tingkat pengepul dan distributor. “Kalau tiga kali itu satu ton lebih dia untuk satu dapur MBG,” tegasnya. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi harga di pasar.
Selain faktor MBG, kenaikan harga kebutuhan pokok pada musim hujan juga diperkirakan terjadi, terutama komoditas pertanian seperti cabai dan tomat yang rawan mengalami gangguan ketersediaan. Namun, Pemkot Mataram belum berencana melakukan pemeriksaan langsung ke dapur MBG. “Belum kita sampai ke situ. Kita lihat dulu perkembangan di lapangan seperti apa,” terangnya.
Kepala Bidang Bapokting Disdag Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengatakan permintaan daging ayam saat ini sangat tinggi dan tidak sebanding dengan ketersediaan pasokan. Ia merinci kebutuhan satu dapur MBG mencapai 380 kilogram per hari atau sekitar 1 ton 80 kilogram per minggu.
“Kenaikannya sangat signifikan. Salah satu penyebabnya memang permintaan yang tinggi. Kami juga diminta oleh beberapa dapur MBG untuk menyediakan daftar harga acuan,” ungkapnya.
Menurutnya, angka tersebut menjadi tantangan berat bagi pasokan harian di Kota Mataram, terlebih dengan 35 dapur MBG yang aktif. “Kalau satu dapur itu 380 kg per hari, kami harus memikirkan bagaimana mengantisipasi ketersediaan pasokan. Kami tidak menyalahkan programnya, tapi kami mencari celah agar pasokan ini tersedia,” tegasnya.
Ia menjelaskan kondisi tersebut membuat harga di pasar wajar berada di kisaran Rp40.000 per kilogram karena adanya biaya operasional. “Yang biasanya sekali panen itu 1.000 ekor, sekarang panennya hanya 600 ekor. Sementara kebutuhan permintaan kita meningkat,” katanya.

