Mataram (Inside Lombok) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram meluncurkan pilot project pengelolaan sampah berbasis lingkungan bertajuk “Tempah Dedoro Organik” di Lingkungan Marong Karang Tatah. Program ini berhasil mereduksi sampah hingga 100 kilogram per hari dan menekan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menjelaskan bahwa sebelum program berjalan, volume sampah warga mencapai sekitar 180 kilogram per hari. Setelah penerapan Tempah Dedoro, sampah residu yang dibuang ke TPS tersisa 80 kilogram, sementara 100 kilogram sampah organik berhasil dikelola di tingkat lingkungan menjadi kompos.
“Ini sudah berjalan sekitar dua atau tiga bulan ini. Nanti ini akan diaplikasikan ke lingkungan yang lain. Satu kelurahan dan satu lingkungan. Jadi ada 50 lingkungan yang akan kita intervensi,” katanya.
Ia menyebutkan, keberhasilan program ditopang oleh partisipasi aktif masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri. Metode pengomposan yang digunakan dinilai efektif karena mampu mengolah sampah organik langsung di lingkungan, sehingga mengurangi penumpukan dan bau di TPS serta menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi tanaman.
Keberhasilan di Lingkungan Marong Karang Tatah diproyeksikan menjadi model percontohan bagi lingkungan lain di Kota Mataram. Dengan pengurangan lebih dari 50 persen, program Tempah Dedoro diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi peningkatan beban sampah perkotaan.
“Tempah dedoro itu cuma ‘gumbleng’ saja kayak biopori. Itu efektif untuk mengurangi sampah organik. Sampah kita di Mataram ini 60 persen itu sampah organik dan 40 persen itu sampah anorganik,” ujarnya.
DLH Kota Mataram berharap kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah organik dapat memperpanjang usia pakai TPA serta menciptakan lingkungan kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.

