29.5 C
Mataram
Senin, 12 Januari 2026
BerandaDaerahNTBAgensi Perempuan Mengatasi Krisis Air, Studi Kasus Sekolah Setara Desa Pandan Indah

Agensi Perempuan Mengatasi Krisis Air, Studi Kasus Sekolah Setara Desa Pandan Indah

Ditulis oleh: Koordinator Provinsi Program WE for JET yayasan Penabulu, Nur Janah

Mataram (Inside Lombok) – Dalam masyarakat tradisional, peran domestik utamanya diemban perempuan – meliputi pekerjaan rumah tangga (seperti memasak, membersihkan, mengasuh anak, merawat keluarga). Dalam masyarakat modern peran tersebut dikenal dengan istilah “UCDW (Unpaid care domestic work) atau kerja pengasuhan tidak berbayar”. Peran-peran ini secara kasat mata terlihat di depan kita. Hal ini dianggap sebagai kewajaran-norma sosial. Peran ini bukan consensus/ kesepakatan melainkan telah.

dilekatkan-disimbolkan yang seolah-olah tidak bisa dirubah. Norma gender!. Hal ini dikisahkan oleh Sekolah Setara desa Pandan Indah Kec. Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah. Sekra (Sekolah Setara) merupakan ruang belajar inklusif bagi perempuan dan penyandang disabilitas untuk membangun kepemimpinan, kesetaraan gender, dan partisipasi aktif dalam isu-isu lingkungan seperti energi terbarukan, keadilan iklim, dan pengelolaan sampah, dengan tujuan mendorong perubahan sosial dari akar rumput melalui pemahaman dan aksi nyata di tingkat desa.  Sekra sendiri dampingan Gema Alam NTB yang merupakan mitra program We For JET.

Untuk memahami lebih jauh kerja-kerja Sekolah Setara desa Pandan Indah, dilakukan agenda kunjungan media dan akademisi ke komunitas. Sebelum berangkat ke lokasi, tim mendapatkan pengarahan dari perwakilan GEDSI JET yang menjadi koordinator dan memimpin perjalanan. Misalnya memastikan semua tim sehat, tidak melupakan obat khusus pribadi, dll. Untuk peserta yang membawa anak nyaman, diberikan ruang khusus yang lebih longgar dalam bus. Dan semua peserta memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan dan rasa aman.

Mesin bus dinyalakan, peserta berdoa dan naik satu per satu. Mereka memberikan kesempatan kepada peserta yang membawa anak untuk memilih posisi duduk yang paling nyaman. Terlihat mereka kompak untuk bantu mengangkat kebutuhan pendukung selama kunjungan lapangan. Visibility, ATK, air dan makanan ringan. Perjalanan ini serupa momen kembali ke kampung alias mudik. Napak tilas jejak ingatan lampau. Dengan ditemani musik tempo doeloe, terdengar peserta mengikuti alunan suara penyanyinya. Nah… umur ndak bisa bohong, yang hafal lagunya bisa ditebak usianya, kelakar salah satu peserta. Suasana menjadi riuh dan riang gembira.

Waktu tempuh perjalanan sampai desa Pandan Indah mencapai 54 menit, atau setara 33,2 km. Rute yang dipilih melewati desa Darek menuju bendungan Pengga serta desa Setanggor. Dengan kondisi armada bus yang cukup besar, supir terlihat hati-hati dalam memasuki beberap rute yang jalannya sempit. Beberapa kali saat berpapasan dengan mobil sedan atau pick-up, salah satu harus sabar memberi ruang agar  bisa lewat. Disinilah keahlian dan kesabaran supir di uji. Saling memahami, mengalah tanpa riuh bunyi klakson. Untuk membantu supir, salah satu peserta mengambil inisiatif turun dari bus dan memandu para sopir agar tidak saling menunggu berkepanjangan.

Bus kembali melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan dimanjakan dengan sawah menghijau. Koordinator perjalanan terlihat sibuk koordinasi dengan sebagian peserta yang memilih menunggu di kantor desa Pandan Indah, serta anggota Sekolah Setara yang sudah mulai kumpul. Karena perjalanan kali ini perjalanan pertama, ketua Sekolah Setara menunggu dikantor desa. Sejurus kemudian bus sampai. Menuju lokasi pertemuan, tim di pandu Sri Mawarni dengan menggunakan sepeda motor.

Infrastruktur Yang Penuh Lubang dan Bebatuan

Mawar, sapaan akrab ketua Sekra Pandan Indah melaju dengan motornya pelan-pelan. Memastikan sopir bus dan peserta lain mengikuti. Dengan jalan utama yang cukup mulus, bayangan kami kondisinya sama menuju lokasi pertemuan. Tapi bus melaju lambat-pelan. Ruas jalan sangat sempit penuh lubang dan bebatuan. Terlihat motor lalu lalang membawa ikatan daun dan rumput. Dan seorang perempuan berjalan mengusung setumpuk daun dan rumput dikepalanya. Kondisi ini menggambarkan jika mereka peternak atau ngadas. .  Juga menceritakan perempuan yang tidak memiliki kuasa atas asset keluarga (seperti motor) dan bukan subjek prioritas pengguna. Atau memang tidak memiliki kendaraan. Peran mengambil daun dan rumput dilakukan bersama antara perempuan dan laki-laki. Tapi apakah perempuan punya suara dalam menentukan jumlah bagi hasil rawat ternak?

Mawar sesekali menoleh ke belakang, melihat bus tertatih mencari jalur aman. Aman dari himpitan kendaraan lain, pun aman dari bahaya dahan yang keluar ke jalan. Dengan kondisi jalan yang menantang, membayangkan bagaimana akses kelompok rentan (ibu hamil, lansia, disabilitas) menuju layanan kesehatan dan layanan publik lainnya.

Desa dengan Kemarau Panjang

Pandan Indah dikenal salah satu desa yang terdampak kekeringan paling parah di Lombok Tengah. Hal ini disebabkan lokasinya yang jauh dari sumber mata air alami. Kekeringan di Desa Pandan Indah terutama disebabkan oleh faktor geografis dan klimatologi. Seperti wilayah Lombok Tengah lainnya, desa ini mengalami penurunan curah hujan yang drastis di bawah normal selama musim kemarau. Sehingga berkurangnya cadangan air tanah dan mengeringnya sumur-sumur. Perubahan penggunaan lahan dari kawasan resapan menjadi lahan terbangun dibeberapa titik di Lombok Tengah mengganggu proses infiltrasi air ke dalam tanah yang mengurangi ketersediaan air saat musim kering. Fenomena El Nino dalam beberapa periode terakhir juga memperparah kondisi ini dengan memperpanjang durasi kemarau. Dengan kondisi itu, kemarau-pun identik dengan krisis air bersih. Karena air lekat dengan peran perempuan secara tradisional, maka ia  menjadi aktor utama yang memastikan tersedia untuk kebutuhan keluarga. Dalam banyak masyarakat agraris dan pedesaan di seluruh dunia, tugas mengumpulkan air dari sumbernya (sumur, sungai) secara tradisional merupakan tanggung jawab utama perempuan dan anak perempuan.

Berdasarkan data UNICEF tahun 2015, pemenuhan kebutuhan air di delapan dari sepuluh rumah tangga diserahkan kepada perempuan dewasa dan anak perempuan. Sementara  19,5 % rumah tangga yang kebutuhannya dikumpulkan oleh laki-laki. Laporan UNICEF dan WHO (2021) menyebutkan di Indonesia persentase rumah tangga berdasarkan jenis kelamin orang yang mengumpulkan air untuk kebutuhan sehari-hari di wilayah pedesaan sebesar 8% untuk laki-laki dan 14% persen untuk perempuan. Berdasarkan data tersebut, nampak ketimpangan gender dalam hal pemenuhan kebutuhan air dalam rumah tangga.

Gema Alam NTB dengan Ruang Pemberdayaan Kritis

Dikenal dengan desa yang dilanda kekeringan, untuk mengambil air bagi kebutuhan sehari-hari dengan melewati bukit. Perempuan menempuh jarak cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Disana terdapat sumur!. Tahun 2015, kementrian DESDM memberikan bantuan pembangunan sumur bor dengan kedalaman 105 m. Perangkatnya dengan menggunakan pembangkit listrik dan solar. Hal ini membutuhkan pembiayaan berkelanjutan untuk memastikan sumur bor tetap berfungsi. Biaya pulsa listrik dan untuk membeli solar. Tidak berselang lama, sumur bor tidak berfungsi dengan nir pemberdayaan tanpa melibatkan perempuan sebagai aktor kunci dalam pemenuhan sanitasi keluarga.

Listrik jangakauannya jauh, solar langka. Jika menggunakan listrik, boros. Warga kerap iuran  untuk bayar listrik. Yang bisa mengambil air dengan jumlah besar yang bayar listrik atau beli solar. Tidak semua warga menikmati hasilnya. Air diambil lagi ke sumur kali. (Kades Pandan Indah).

Harapan mengambil air dengan lokasi yang jaraknya dekat dengan rumah warga pupus. Perempuan kembali ke titik nol lagi. Sebelum subuh memanggul ember melewati bukit. Dengan potensi berbagai bahaya mengintai. Kala musim hujan, mereka menampung air untuk kebutuhan mencuci dan mandi.  Pun digunakan untuk memasak. Untuk minum warga membeli air dengan harga Rp 5.000 s.d Rp 6.000/ ember.

Tahun 2023 Gema Alam NTB masuk kedesa Pandan Indah melakukan pendampingan. Dengan konsep pemberdayaan perempuan berpusat pada filosofi “bukan diubah, tapi diingatkan” akan kekuatan internal mereka, bertindak sebagai cermin bukan cetakan. Perwakilan perempuan desa diorganisir. Mereka mendapatkan pengetahuan terkait GENDER dari siklus 1 s.d 7. Diantaranya pengetahuan tentang gender, citra diri, inklusi, kepemimpinan perempuan dan transisi energi. Penguatan pengetahuan perempuan menjadi kunci dalam menggerakkan kepemimpinannya dalam amplifikasi isu transisi energi berkeadilan di desa. Disamping itu diberikan juga pelatihan gender untuk laki-laki, tokoh kunci didesa sehingga menjadi pendukung dan penggerak gerakan Sekolah Setara melalui “laki-laki baru”

“Sebelum kami mendapatkan pelatihan Gender, pekerjaan rumah tidak saya komunikasikan ke pasangan. Setelah saya memahami apa itu Gender saya bisa komunikasikan peran secara terbuka dan berani untuk dinegosiasikan”. (Maharani, Anggota Sekolah Setara)

Gema Alam dengan masyarakat melakukan pemetaan partisipatif. Mengidentifikasi kebutuhan prioritas dengan metode RCA (Rapid Care Analysis) tentang JET (Just Energy Transition).Isu yang paling banyak perhatian yakni soal “kesenjangan air bersih”. Dengan tahapan kerja sistematis, tahun pertama Gema Alam melakukan peningkatan kapasitas, tahun kedua pembangunan infrastruktur. Dengan modalitas sumur bor yang mangkrak, muncul ide pembangkitnya dengan menggunakan panel surya. Ide ini terhubung dengan SMKN 1 Lingsar sebagai salah satu SMK yang memiliki jurusan Tekhnik Energi Terbarukan untuk membangun SWP (solar Water Pump) tanpa baterai.

Sekolah Setara dan Agensi Perempuan Mengatasi Krisis Air

Harapan itu ada! Itulah semangat Sekolah Setara dalam memulai bersama wujudkan air depan mata mereka. Para perempuan Sekra mulai bersuara. Menyampaikan kegelisahannya kepada kepala desa. Proses advokasi ini tidak selalu berjalan lancar. Tantangan anggaran desa yang terbatas menjadi persoalan tersendiri. Mereka pantang menyerah. Pihak Kabupaten juga mereka gedor. Semua pintu diketuk!.Berkali-kali menemui Pemdes untuk mendukung harapan mereka. Anggaran 48 juta dari APBDes untuk pembangunan infrastruktur SWP akhirnya tersedia.

Tanggal 19-24 April 2024 menjadi momentum untuk pembangunan SWP dengan kapasitas 1.960 MW untuk memompa air. Dengan semangat guyup dan gotong royong, perempuan Sekra terlibat dalam prosesnya. Mulai dari penjelasan alat-alat yang digunakan sampai pemeliharaan. Mereka tidak ingin tertinggal!. Dengan sumber energi langsung dari matahari, saat pembangunan memiliki tantangan tersendiri. Satu pohon kelapa menghalangi. Akhirnya kelapa diputuskan bersama untuk ditebang. Setelah semua proses dilakukan, air dalam sumur itu belum keluar sama sekali. Berkali-kali dicek hasilnya sama. Nihil! Air seperti enggan keluar dari sumur itu. Ada kepercayaan lokal masyarakat perlunya ada ritus khusus. “Penginan”. Benar saja, setelah ritus itu air keluar dari sumur dengan derasnya. Perempuan Sekra sorak sorai bercampur haru.

Belajar dari mangkratnya sumur bor sebelumnya, Sekra membuka ruang diskusi untuk berbagi peran. Salah satunya petugas pemeliharaan untuk panel surya. Ditunjuklah Inaq Antiq. Secara beliau posisi rumahnya disebalah SWP dan lebih memudahkan untuk melakukan pengecekan.  Panel surya  dibersihkan 2 kali setahun  jika musim hujan dan  1 kali dalam 3 bulan kala kemarau. Di musim kemarau banyak debu yang menutupi pancaran matahari sehingga serapan energi kurang maksimal.  Selain itu perempuan Sekolah Setara mengeluarkan iuran masing-masing 20.000 untuk membeli pintu ruang penyimpan alat dan untuk kebutuhan SWP lainnya. Penerima manfaat dari keberfungsian sumur bor sebanyak 60 KK, dengan kapasitas tandon (penampung air) 1.200 liter. Pengisian tandon sampai penuh memakan waktu dua jam. Kehadiran SWP yang mengubah peran dan perempuan desa Pandan Indah memberikan pembelajaran bermakna dalam kehidupan mereka.

“Saya senang sekali dengan berfungsinya sumur bor dengan meggunakan SWP. Dari subuh ibu-ibu tidak lagi berjalan jauh mengambil air. Air sudah ada di depan mata kita dan tidak lagi membebani secara ekonomi”. (Sri Mawarni, Ketua Sekolah Setara)

“Senengk wah sak jari tukang jagak, molah endah pegawean, due kalit bersihn lamun ketaun, lamun kebalit sekali 3 bulan. Mun kebalit loek kelepuk nombok kacen iku, jarin kurang maukn panas”. (Bahasa Sasak)

“Saya senang sekali ditunjuk menjaga SWP. Kerjaannya sederhana, panel surya dibersihkan 2 kali setahun jika musim hujan dan 1 kali dalam 3 bulan saat kemarau. Di musim kemarau banyak debu yang menutupi pancaran matahari sehingga serapan energi kurang maksimal”. (Inaq Antiq, petugas pemeliharaan SWP)

Selama lebih dari 20 tahun saya naik turun bukit ambil air. Jam 4 subuh, saya jalan sendirian menuju Eat Panggongan. Dalam sehari saya mengambil air 1 s.d 3 kali. Jarak dari rumah ke sumber air sejauh 5 km. Kala hujan jalannya licin. Terkadang saya jatuh. Air itu digunakan untuk memasak, nyuci piring, wudhu dan minum sapi. Air hujan ditampung dengan ember dan digunakan untuk mandi. Dengan adanya aliran air dari pipa SWP, saya tidak pernah lagi naik turun bukit ambil air.(Inaq Indah, penerima manfaat SWP).

Keberlanjutan SWP di Masa Mendatang

Solar Water Pump sebagai simbol gerakan perempuan desa di Pandan Indah menjadi praktek baik dalam mengurai krisis air bersih yang berkepanjangan. Kepemimpinan perempuan melalui Sekolah Setara yang solid, guyup, perasaan senasib sepenanggungan menjadi kekuatan dalam mewujudkan agar air bersih hadir dihalaman bahkan di dalam rumah mereka. Adanya kasus sumur bor yang digunakan secara individu, status lahan lokasi pembangunan yang belum jelas menjadi temuan untuk dicarikan solusi agar SWP berkelanjutan dimasa mendatang.

Dalam diskusi hangat antara media, akademisi dengan komunitas Sekolah Setara, masukan menarik dari konteks hukum agar perlunya rancangan peraturan desa atau awiq-awiq. Kekosongan hukum bisa menimbulkan potensi konflik interest para pihak. Misalnya status lahan pembangunan SWP, apakah sudah dihibahkan atau seperti apa.  Pengetahuan hukum terkait dengan tahapan pengelolaan asset serta diperkuat dengan regulasi-desa Pandan Indah akan menjadi percontohan untuk desa-desa lain yang mengalami kekeringan.

- Advertisement -

Berita Populer