Mataram (Inside Lombok) – Produksi padi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan dan mencatat surplus. Capaian ini menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan daerah, sejalan dengan arah kebijakan nasional menuju swasembada pangan.
Kepala Dinas Kominfotik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, bersama Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Hj. Eva Dewiyani, menyampaikan bahwa berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi NTB tahun 2025 mencapai 1.698.283 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut meningkat 16,85 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 1.453.408 ton GKG, didukung peningkatan luas panen dari 281.718 hektare menjadi 322.927 hektare serta produktivitas dari 51,59 kuintal per hektare menjadi 52,59 kuintal per hektare.
Secara rinci, produksi padi terbesar tercatat di Lombok Tengah dengan luas panen 78.639 hektare dan produksi 421.941 ton GKG, disusul Sumbawa seluas 74.736 hektare dengan produksi 398.864 ton GKG, serta Lombok Timur seluas 45.387 hektare dengan produksi 243.474 ton GKG. Daerah lainnya meliputi Kabupaten Bima 208.018 ton GKG, Dompu 151.335 ton GKG, Lombok Barat 135.678 ton GKG, Sumbawa Barat 74.496 ton GKG, Lombok Utara 33.320 ton GKG, Kota Mataram 17.727 ton GKG, dan Kota Bima 13.431 ton GKG.
Menurut Dr. Aka, capaian tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak melalui optimasi lahan seluas 10.574 hektare, penggunaan benih unggul bersertifikat, penyaluran pupuk subsidi sesuai RDKK, serta penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen di tingkat petani menjadi Rp6.500 per kilogram.
“Ada juga program penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemprov NTB, pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, instansi teknis, stakeholder, dan petani,” katanya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani, mengatakan bahwa memasuki tahun 2026 pihaknya akan terus memperkuat optimalisasi lahan dan menjalankan program strategis daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk menyelaraskan program swasembada pangan Pemerintah Pusat di daerah.
“NTB optimistis dapat terus menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan, sebagai bagian dari kontribusi daerah dalam mewujudkan cita-cita nasional menuju kebangkitan swasembada pangan Indonesia,” tutupnya.

