Mataram (Inside Lombok) – Sejumlah sekolah dasar (SD) negeri (di Kota Mataram kerap mengalami kekurangan siswa saat penerimaan peserta didik baru (PPDB). Kondisi ini terjadi karena semakin banyaknya pilihan sekolah bagi masyarakat, termasuk keberadaan sekolah swasta, serta menurunnya angka kelahiran. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Yusuf.
Yusuf mengatakan, laporan yang diterima setiap tahun menunjukkan jumlah peserta didik baru terus mengalami penurunan. “Jumlah siswa itu setiap tahun berkurang,” katanya. Menurutnya, banyaknya sekolah swasta yang beroperasi membuat masyarakat memiliki lebih banyak alternatif lembaga pendidikan. Banyak sekolah swasta juga. Jadi banyak sekolah jadi pilihan untuk menyekolahkan anaknya,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Selain faktor pilihan sekolah, penurunan jumlah anak usia sekolah juga dipengaruhi oleh menurunnya angka kelahiran. Yusuf menyebut analisis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren tersebut terjadi setiap tahun. “Kekurangan orang melahirkan. Ini Analisa BPS. Setiap tahun jumlah data siswa selalu berkurang,” katanya.
Kondisi minimnya siswa terlihat di sejumlah SD negeri, salah satunya SDN 36 Ampenan yang saat ini hanya memiliki 30 siswa untuk enam rombongan belajar. Penurunan jumlah peserta didik baru terjadi hampir setiap tahun di beberapa sekolah dasar negeri di Kota Mataram.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Kota Mataram berencana menutup sekolah yang jumlah siswanya sangat sedikit serta melakukan penggabungan atau merger sekolah. Salah satu rencana penggabungan yakni SDN 41 Cakra dengan SDN 10 Cakranegara. “Ini sudah masuk drafnya. Ada beberapa sekolah yang akan kita gabung,” kata Yusuf.
Penggabungan sekolah masih menunggu peraturan wali kota dan direncanakan berlaku pada tahun ajaran baru. Yusuf menyebut beberapa sekolah yang akan dimerger, di antaranya SDN 19 Mataram dengan SDN 15 Mataram, serta SDN 11 Ampenan dengan SDN 14 Ampenan. “Empat sekolah ini nanti jadi dua,” katanya.

