Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota Mataram mulai mengantisipasi penyebaran penyakit lumpy skin disease (LSD) pada sapi menyusul ditemukannya kasus tersebut di sejumlah daerah di Indonesia. Meski demikian, Kota Mataram hingga kini masih dinyatakan aman dari penyakit tersebut. Kewaspadaan ditingkatkan setelah LSD terdeteksi di Provinsi Bali, Rabu (28/1/2026).
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Jauhari melalui Kepala Bidang Peternakan, Lalu Hapiludin mengatakan, penyakit LSD pertama kali terdeteksi di Riau dan kemudian menyebar ke wilayah Sumatra dan Jawa. “Pertama kali ke deteksi itu di Riau, dan kemudian menyebar ke daerah di Sumatra dan Jawa. Akhir Desember itu terdekat di Bali,” katanya.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi NTB telah mengeluarkan surat edaran agar daerah meningkatkan kewaspadaan. Gejala LSD pada sapi disebut hampir mirip dengan penyakit mulut dan kuku (PMK), seperti demam tinggi, benjolan pada kulit, kondisi lemah dan lesu, serta penurunan nafsu makan. Penularan LSD terjadi melalui serangga penghisap darah seperti nyamuk, lalat, dan caplak.
Upaya pencegahan dilakukan dengan pengendalian serangga, menjaga kebersihan kandang, desinfeksi peralatan dan kandang, isolasi ternak yang sakit, serta vaksinasi LSD. “Kalau kita ini masih bebas. Tapi karena sudah sampai Bali jadi kita diminta kewaspadaan untuk masuknya,” kata Hapiludin.
Ia menambahkan, tingkat penyebaran LSD dinilai lebih masif dibandingkan PMK karena melibatkan vektor serangga. “Kalau ini sebatas penyebarannya melalui serangga,” katanya. Dinas Pertanian Kota Mataram juga telah menyiapkan selebaran dan materi sosialisasi untuk dibagikan kepada peternak, terutama di pasar hewan, guna meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini.
Penyakit LSD dipastikan tidak bersifat zoonosis atau tidak menular ke manusia. Daging ternak yang terinfeksi masih dapat dikonsumsi, dan sapi dapat sembuh dengan sendirinya jika memiliki daya tahan tubuh yang baik. “Bisa sembuh dengan sendirinya jika imun dari sapi itu bagus. Makanya itu salah satu pencegahan kita yaitu pemberian multivitamin,” katanya.

