25.5 C
Mataram
Jumat, 30 Januari 2026
BerandaLombok UtaraPT TCN Gunakan Metode Beach Well untuk Pasok Air Bersih di Gili

PT TCN Gunakan Metode Beach Well untuk Pasok Air Bersih di Gili

Lombok Utara (Inside Lombok)– Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) bersama PDAM Amerta Dayan Gunung dan PT Tiara Citra Nirwana (TCN) mulai menerapkan teknologi ramah lingkungan untuk penyediaan air bersih di kawasan wisata Gili Trawangan dan Gili Meno. Penyediaan air baku dilakukan melalui metode beach well sebagai bagian dari teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Langkah ini ditujukan untuk mengatasi persoalan keterbatasan air bersih di dua pulau tersebut.

Manajer Operasional PT TCN, Agus Arta, mengatakan metode beach well dipilih karena memanfaatkan air laut yang diambil dari zona pesisir. Air laut tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi SWRO hingga menjadi air tawar layak konsumsi. Metode ini dinilai lebih aman dibanding pengeboran air tanah di daratan yang berisiko mengganggu ekosistem air tawar.

“Karena kita teknologinya Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) artinya mengelola air laut. Kenapa kita beach well? karena kita membuatnya di pinggir Pantai, yang kita olah tetap harus air laut,” ungkapnya, Kamis (29/1).

Agus menjelaskan, secara teknis pasir pantai dimanfaatkan sebagai filtrasi alami sebelum air diolah lebih lanjut, dengan tingkat salinitas tetap menyerupai air laut. Lokasi pengeboran sumur dilakukan di wilayah pesisir, bukan di tengah daratan, untuk menjaga cadangan air tanah masyarakat.

“Bukan di daratan ngebornya, tapi pinggir pantai cuma tetap daratan, karena kan kita kaya model menggarapkan filtrasinya dari pasir saja,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan air, PT TCN merencanakan pembangunan enam sumur di Gili Trawangan, dengan lima sumur untuk produksi dan satu sumur pantau. Sementara di Gili Meno direncanakan pembangunan dua hingga tiga sumur sesuai estimasi kebutuhan air.

“Satu sumur sebagai pantau, untuk memastikan bahwa tetap sesuai standar dan parameter. Kalau di Gili Meno kebutuhannya lebih kecil, mungkin kita hanya perlu 2 atau 3 sumur karena estimasi kebutuhannya seperti itu,” jelasnya.

Agus menegaskan PT TCN bertanggung jawab atas pembiayaan dan konstruksi proyek tersebut, namun kelancarannya bergantung pada sinergi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya terkait perizinan.

“Harapan saya yang penting kerjasama ini pastinya harus bermanfaat buat masyarakat. Disamping itu sekarang bagaimana sinergi di OPD ini dalam persiapannya terutama di proses perizinannya, karena sekarang atas nama PDAM,” terangnya.

Terkait target operasional, Agus menyatakan pihaknya siap menjalankan proyek setelah seluruh perizinan rampung. Namun, PT TCN tetap menunggu arahan dari Sekretaris Daerah KLU sebagai koordinator persiapan.

“Lebih cepat tentu lebih bagus. Tapi kami tetap menunggu arahan dari Pak Sekda selaku ketua kelas dalam persiapan ini. Pada prinsipnya, izin semua ada di ranah Pemda, kami siap eksekusi,” pungkasnya.

- Advertisement -

Berita Populer