Lombok Timur (Inside Lombok) – Dugaan tindakan pencabulan yang dilaporkan alumni santriwati terhadap seorang oknum tuan guru di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, mengundang perhatian publik. Tuan guru berinisial MJ membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa laporan itu tidak benar.
Tuan guru sekaligus pihak yayasan, TGH MJ, menyatakan tidak mengetahui adanya laporan pencabulan yang dialamatkan kepadanya hingga kabar tersebut ramai diberitakan di media. Ia mengaku tidak mengenal dua santriwati yang melaporkannya ke LPA Mataram dan Polda NTB.
“Sampai saat ini saya tidak tau siapa santriwati itu, banyak sekali santriwati yang kita bina di sini dan tidak ada praktik seperti yang dituduhkan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Senin (02/02/2026).
Ia menyebutkan, tuduhan yang dilaporkan tersebut diduga terjadi pada tahun 2016 dan 2022. Menurutnya, pada periode itu ia belum fokus menangani yayasan karena masih dikelola oleh almarhum ayahnya selaku pendiri, sehingga ia mengaku tidak mengetahui praktik yang dituduhkan.
Selain mengurus yayasan, TGH MJ juga bekerja sama dengan travel umrah di Jakarta dan kerap bolak-balik ke Mekah untuk membimbing jamaah. Dalam kegiatan tersebut, ia mengajarkan amalan atau doa yang dibacakan sendiri oleh jamaah di depan Ka’bah.
“Jadi saya mengajarkan amalan atau doa kepada para jamaah yang menginginkan kesembuhan. Rata-rata praktik penyembuhan ini untuk penyakit berat, misal penyakit seperti kista,” paparnya.
Ia menegaskan, dalam praktik tersebut tidak ada kontak fisik dengan jamaah maupun santriwati. “Kita tidak ada kontak fisik, hanya mengajarkan doa saja yang dibacakan sendiri oleh jamaah. Jadi apa yang dituduhkan pada daya itu fitnah atau hoaks,” pungkasnya.

