28.5 C
Mataram
Kamis, 5 Februari 2026
BerandaLombok TimurAkui Wali Murid Korban Sempat Dikeluarkan dari Grup WhatsApp, Namun Sekolah Bantah...

Akui Wali Murid Korban Sempat Dikeluarkan dari Grup WhatsApp, Namun Sekolah Bantah Isu Perundungan

Lombok Timur (Inside Lombok) – Pihak sekolah dasar di Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, memberikan klarifikasi terkait dugaan perundungan terhadap seorang siswa yang disertai isu intimidasi dan dikeluarkannya wali murid korban dari grup WhatsApp kelas. Sekolah membantah adanya perundungan dan intimidasi, namun membenarkan adanya peristiwa pengeluaran wali murid dari grup komunikasi tersebut.

Kepala sekolah, Zaenul, mengatakan pihaknya telah berupaya membangun komunikasi dengan keluarga siswa. Ia menyebut sekolah telah dua kali menjenguk korban, masing-masing saat dirawat di Klinik Candra dan saat menjalani perawatan lanjutan di RSUD dr. R. Soedjono Selong.

“Kami datang untuk memastikan kondisi anak sekaligus berkomunikasi dengan orang tuanya. Saya sampaikan bahwa yang terpenting saat ini anak sehat dulu, soal biaya nanti bisa kita komunikasikan dengan dinas, termasuk mengecek status BPJS,” ujarnya, Rabu (4/2/2026), usai klarifikasi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur.

Zaenul menjelaskan, sekolah masih menunggu hasil skrining dari psikolog Puskesmas Labuhan Lombok untuk memastikan penyebab kondisi siswa. Berdasarkan keterangan dua saksi di sekolah, siswa tersebut disebut terjatuh dari kursi, sehingga pihak sekolah belum dapat menyimpulkan adanya perundungan.

“Dari keterangan dua saksi di sekolah, anak itu disebut jatuh dari kursi. Karena itu kami minta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan. Kalau sudah menyimpulkan di media sosial tanpa dasar yang jelas, khawatirnya bisa menimbulkan fitnah,” jelasnya.

Terkait dikeluarkannya wali murid dari grup WhatsApp kelas, Zaenul mengakui peristiwa tersebut terjadi dan baru diketahui pada malam sebelumnya setelah mendapat laporan dari wali kelas. Ia menyebut tindakan itu diduga dipicu emosi sesaat dan tidak memiliki maksud tertentu.

“Saya sendiri baru tahu semalam. Kemungkinan itu terjadi karena emosi sesaat. Tidak ada maksud apa pun. Saya sudah minta agar wali murid yang bersangkutan dimasukkan kembali ke grup,” katanya.

Ia juga menegaskan tidak ada intimidasi dari pihak sekolah terhadap keluarga korban. “Kami tidak pernah melakukan intimidasi. Bahkan soal grup WhatsApp itu saya baru dengar tadi malam,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Dikbud Kecamatan Pringgabaya, Nasir, menyampaikan pihaknya mendorong pertemuan antara keluarga siswa dan pihak sekolah untuk meluruskan informasi yang berkembang.

“Kami ingin semua duduk bersama agar tidak terjadi kesalahpahaman. Harapan kami, keluarga bisa langsung berkomunikasi dengan sekolah jika ada persoalan,” ujarnya, seraya mengimbau sekolah memperketat pengawasan dan masyarakat tidak menyimpulkan informasi sebelum data lengkap.

- Advertisement -

Berita Populer