25.5 C
Mataram
Kamis, 5 Februari 2026
BerandaMataramEkonomi NTB 2025 Tumbuh 12,49 Persen, Industri Smelter Jadi Penggerak Utama

Ekonomi NTB 2025 Tumbuh 12,49 Persen, Industri Smelter Jadi Penggerak Utama

Mataram (Inside Lombok) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan IV 2025 mencapai 12,49 persen secara tahunan (year on year). Capaian tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas industri pengolahan, khususnya operasional smelter, pada akhir 2025 di NTB.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan menjelaskan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku pada Triwulan IV 2025 tercatat sebesar Rp52,04 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp30,07 triliun. Menurutnya, akselerasi pertumbuhan yang tinggi ini merupakan dampak langsung dari masifnya produksi sektor industri.

“Pertumbuhan ekonomi ini terutama didorong oleh kinerja lapangan usaha industri pengolahan yang tumbuh sangat signifikan sebesar 137,78 persen (y-on-y), seiring dengan meningkatnya aktivitas operasional smelter di NTB,” ungkap Wahyudin, Kamis (5/2).

Selain industri pengolahan, sejumlah sektor lain juga mencatat pertumbuhan. Wahyudin menyebutkan jasa keuangan dan asuransi tumbuh 28,12 persen (y-on-y), perdagangan besar dan eceran tumbuh 12,29 persen (y-on-y), serta sektor pertambangan dan penggalian tumbuh secara triwulanan (q-to-q) sebesar 25,32 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi NTB turut didorong oleh ekspor barang dan jasa yang meningkat 103,11 persen (y-on-y). Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya nilai ekspor komoditas pertambangan dan produk olahan industri smelter ke pasar internasional.

Namun demikian, Wahyudin menyampaikan bahwa secara kumulatif tahunan (c-to-c), pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang 2025 berada di angka 3,22 persen. Struktur ekonomi NTB pada akhir 2025 masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar 18,75 persen, diikuti pertanian, kehutanan, dan perikanan 18,49 persen, perdagangan besar dan eceran 14,38 persen, serta konstruksi 8,86 persen.

- Advertisement -

Berita Populer