28.5 C
Mataram
Sabtu, 7 Februari 2026
BerandaMataramTerancam Ditutup, Ratusan SPPG di NTB Terima SP 1 dari BGN

Terancam Ditutup, Ratusan SPPG di NTB Terima SP 1 dari BGN

Mataram (Inside Lombok) – Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan Surat Peringatan Pertama (SP 1) kepada sekitar 70 persen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat. Peringatan tersebut diberikan karena ratusan SPPG dinilai belum memenuhi standar, sehingga Dinas Kesehatan diminta lebih selektif dalam penerbitan Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).

Kepala Satuan Tugas MBG NTB, Fathul Gani, menegaskan SPPG yang menerima SP 1 diberi waktu tujuh hari untuk melakukan perbaikan. Jika tidak ada tindak lanjut, sanksi lanjutan akan diberlakukan hingga penutupan dapur.

“Yang jelas, kita tidak bisa mentolerir. Tujuh hari tidak ada perubahan, kita kasih SP2, kalau tujuh hari lagi juga tidak ada (tindak lanjut), kita tutup dapur SPPG-nya dan itu clear sudah,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).\

Berdasarkan data terakhir, jumlah dapur MBG di NTB mencapai lebih dari 600 unit. Dari jumlah tersebut, ratusan SPPG masuk kategori bermasalah dengan temuan dominan pada aspek infrastruktur sebanyak 238 unit, manajemen organisasi 72 unit, administrasi 115 unit, serta persoalan sumber daya manusia dan mutu gizi. “Dari 600 sekian SPPG yang bermasalah itu paling banyak infrastruktur,” katanya.

Pemerintah Provinsi NTB menegaskan akan terus memantau SPPG yang telah menerima SP 1 dan meminta seluruh temuan dilaporkan secara terbuka. “Buat laporan bermasalah. Jangan ditutup-tutupi. Kita akan evaluasi yang aparat, petugas kita,” tegas Fathul Gani.

Evaluasi juga akan dilakukan secara internal terhadap aparat dan petugas pendamping di lapangan, tidak hanya kepada pengelola SPPG. “Bukan hanya kita evaluasi para pelaku tetapi aparat kita termasuk petugas kita evaluasi juga,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi NTB memastikan tetap mendampingi pelaksanaan Program MBG sebagai program nasional yang berdampak pada tenaga kerja, petani, dan perputaran ekonomi daerah. “Iya dong. Ini program nasional. Program ini memberikan dampak bagi tenaga kerja, bahan baku dari petani dan berapa yang akan terjadi perputaran ekonomi kita,” pungkasnya.

- Advertisement -

Berita Populer