30.5 C
Mataram
Rabu, 11 Februari 2026
BerandaLombok TengahDinkes Loteng Minta Pengelola SPPG Lebih Selektif Sajikan MBG

Dinkes Loteng Minta Pengelola SPPG Lebih Selektif Sajikan MBG

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) meminta pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih selektif dan teliti dalam penyajian Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penegasan tersebut disampaikan seiring penerapan ketat penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk menjamin keamanan makanan bagi penerima manfaat, khususnya siswa.

Kepala Dinkes Loteng, Dr. Suardi, mengatakan sebelum SLHS diterbitkan, petugas melakukan inspeksi lingkungan secara menyeluruh terhadap SPPG. Pemeriksaan meliputi kualitas air, keberadaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), kelancaran aliran air, serta kebersihan dan sterilisasi peralatan.

“Kami memeriksa kualitas air yang digunakan, memastikan ada atau tidaknya instalasi pengolahan air limbah (IPAL), apakah air mengalir dengan baik, serta mengecek kebersihan dan sterilisasi alat-alat yang digunakan,” katanya kepada media, Selasa (10/2).

Suardi menyebutkan hingga saat ini terdapat sekitar 121 SPPG yang telah beroperasi sejak 2025 dan seluruhnya telah mengantongi SLHS. Salah satu syarat utama penerbitan sertifikat tersebut adalah kepemilikan sertifikat penjamah makanan bagi pengelola dan petugas.

“Itu menjadi syarat dikeluarkannya SLHS. Para pengelola dan petugas sudah dilatih terkait cara memilih bahan makanan yang baik serta proses penyajian yang aman,” imbuhnya.

Dari 121 SPPG tersebut, Suardi mengungkapkan hanya satu SPPG yang sempat mengalami dugaan kasus keracunan makanan MBG, yakni di Kecamatan Pringgarata. Dalam kejadian itu, lima siswa mengalami gejala gangguan kesehatan, namun empat di antaranya telah ditangani dan kondisinya cepat pulih.

Selain itu, pada akhir Januari 2026 tercatat 39 kasus gangguan kesehatan yang berasal dari SPPG. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ditemukan bakteri Bacillus cereus dan Streptococcus yang memicu keluhan sakit perut dan mual.

“Kasus di SPPG Desa Damaji misalnya, terjadi karena penyajian susu yang sudah kedaluwarsa. Ini murni kesalahan pengelola karena tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu,” jelasnya.

Dinkess Loteng terus mengimbau seluruh pengelola SPPG untuk meningkatkan kewaspadaan dan ketelitian dalam pemilihan bahan baku serta proses penyajian. Suardi menekankan pentingnya memastikan kualitas air bersih dan memeriksa masa kedaluwarsa bahan makanan.

“Untuk susu harus benar-benar diperiksa agar tidak menyajikan yang sudah kedaluwarsa. Buah juga jangan sampai disajikan dalam kondisi busuk. Petugas gizi harus betul-betul teliti,” pungkasnya.

- Advertisement -

Berita Populer