30.5 C
Mataram
Rabu, 11 Februari 2026
BerandaMataramIsu Penimbunan Bahan Pokok Mencuat Jelang Ramadan, Pemprov NTB Turun ke Pasar

Isu Penimbunan Bahan Pokok Mencuat Jelang Ramadan, Pemprov NTB Turun ke Pasar

Mataram (Inside Lombok) — Isu penimbunan bahan pokok mulai jadi kekhawatiran menjelang Ramadan, seiring naiknya harga sejumlah komoditas di pasar tradisional. Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB pun turun langsung memantau kondisi lapangan, termasuk memastikan tidak ada praktik penahanan stok yang memicu lonjakan harga.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, meninjau Pasar Mandalika Bertais, Selasa (10/2), untuk mengecek harga dan ketersediaan bahan pokok. Salah satu komoditas yang disorot adalah cabai rawit yang kini dijual Rp90 ribu hingga Rp95 ribu per kilogram.

Padahal, harga eceran tertinggi (HET) cabai rawit dipatok sekitar Rp97 ribu per kilogram. Meski masih di bawah batas, tren kenaikan dinilai perlu diwaspadai karena permintaan biasanya melonjak menjelang puasa. “Kami sengaja turun untuk melihat langsung kondisi harga-harga, terutama bahan pokok. Memang ada kenaikan cukup tinggi di cabai rawit,” ujar Iqbal, Selasa, (10/02).

Di tengah kenaikan harga itu, isu penimbunan sempat mencuat. Namun, menurutnya, hingga saat ini belum ditemukan indikasi kuat adanya praktik tersebut. “Sampai sekarang belum ada tanda-tanda penimbunan. Cabai juga tidak bisa disimpan lama, beberapa hari saja sudah busuk,” katanya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga lebih dipengaruhi faktor cuaca hujan yang menghambat panen, distribusi ke luar daerah, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan. Selain cabai, harga minyak goreng juga mulai merangkak naik hingga di atas Rp20 ribu per liter. Pemerintah menilai komoditas ini masih bisa dikendalikan lewat jalur distribusi, termasuk stok dari BULOG dan skema minyak goreng subsidi.

Sebagai langkah antisipasi, Pemprov NTB akan menggelar Gerakan Pangan Murah di seluruh pasar pada Jumat mendatang. Pemerintah juga berencana memperkuat koordinasi dengan kabupaten/kota serta meminta petani dan pengepul memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan lokal agar harga tidak semakin melonjak. (gil)

- Advertisement -

Berita Populer