28.5 C
Mataram
Sabtu, 14 Februari 2026
BerandaLombok UtaraPuluhan  Siswa SD di Malaka Diduga Keracunan MBG, Sampel Makanan Diuji

Puluhan  Siswa SD di Malaka Diduga Keracunan MBG, Sampel Makanan Diuji

Lombok Utara (Inside Lombok) – Sebanyak 29 siswa dari SD 4 Malaka dan SD 2 Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu, 11 Februari 2026. Para siswa dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah mengkonsumsi menu yang disajikan di sekolah.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) KLU, dr Lalu Bahrudin, membenarkan kejadian tersebut. Tim surveilans bersama petugas Puskesmas setempat langsung melakukan penanganan darurat setelah menerima laporan munculnya gejala pada puluhan siswa.

“Memang betul ada kejadian keracunan makanan anak sekolah di Desa Malaka. Dari lporan tadi ada sekitar kurang lebih 29 anak yang keracunan dari 2 SD. Tapi Alhamdulillah dengan kasus itu penanganannya sudah 100 persen dan itu cukup sampai di Puskesmas, tidak ada yang dirujuk sampai ke rumah sakit,” ujarnya, Kamis (12/2).

Dinkes KLU belum menyimpulkan penyebab pasti insiden tersebut. Sampel makanan berupa ayam tumis, wortel, dan oseng yang dikonsumsi siswa telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan (Labkes) dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk dilakukan uji klinis.

“Nanti kita tunggu hasil pemeriksaan dari Balai POM dan juga dari lab kesehatan terkait dengan kecurigaan keracunan oleh makanan dari MBG,” tuturnya.

Terkait fasilitas pengolahan, dapur penyedia MBG di Desa Malaka diketahui telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Meski demikian, Dinas Kesehatan akan melakukan evaluasi terhadap proses pengolahan dan penyajian makanan oleh penyedia.

“Dapur tersebut sudah punya SLHS, lingkungannya pun aman. Tapi kita tidak tahu bagaimana detail proses pengolahan dan penyajiannya di lapangan. Inilah yang akan kita evaluasi berdasarkan hasil pemeriksaan nanti,” terangnya.

Dinkes KLU menginstruksikan seluruh jajaran Puskesmas, khususnya tim program gizi, untuk meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG. Pengawasan dilakukan guna memastikan keamanan pangan dalam pelaksanaan program tersebut.

“Ini adalah program Presiden, jadi mau tidak mau pelaksanaannya harus sempurna. Kami meminta teman-teman gizi di Puskesmas untuk lebih aktif turun ke lapangan guna mengawasi setiap sajian hidangan yang akan diberikan kepada siswa,” pungkasnya.

 

- Advertisement -

Berita Populer