Lombok Timur (Inside Lombok) – Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, warga Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, bersepakat menyederhanakan tradisi Roah atau selamatan guna menekan pengeluaran. Kesepakatan itu dilakukan pada Jumat (13/2/2026) melalui sistem “Saling Tulung” dengan membawa satu dulang hidangan untuk disantap bersama di Masjid Pusaka desa setempat. Langkah ini diambil untuk menghindari beban finansial masyarakat menjelang bulan puasa.
Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan zikir dan jamuan dilaksanakan di rumah masing-masing dengan anggaran yang dapat mencapai lebih dari Rp1 juta per keluarga. Tahun ini, setiap kepala keluarga cukup membawa satu dulang berisi hidangan dengan kisaran biaya sekitar Rp200 ribu untuk dikumpulkan dan dinikmati bersama.
Salah satu tokoh perempuan Desa Ketangga, Ibu Muhium, mengatakan kebijakan tersebut bertujuan mencegah beban ekonomi warga. “Kami tidak ingin keberkahan Ramadhan justru dibayangi utang atau pengeluaran yang berlebihan. Dengan satu dulang, biaya bisa ditekan hingga sekitar 20 persen,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Ia menambahkan, penghematan tersebut juga menjadi langkah antisipasi terhadap potensi kenaikan harga kebutuhan pokok seperti cabai dan sayuran saat bulan puasa. “Alhamdulillah jadi lebih irit, sisanya bisa dipakai untuk persiapan puasa nanti,” tambahnya.
Tokoh agama setempat, Ustadz Adi, turut mengimbau warga agar memprioritaskan kualitas ibadah dibanding pengeluaran konsumtif. “Ramadhan seharusnya dimaknai dengan kesederhanaan. Kalau pengeluaran bisa diminimalkan, masyarakat lebih tenang beribadah dan memiliki simpanan untuk kebutuhan puasa maupun Idul Fitri,” jelasnya.
Hingga kini, tradisi Roah dengan sistem kebersamaan tersebut disepakati sebagai bentuk persiapan kolektif menyambut Ramadhan.

