24.5 C
Mataram
Rabu, 18 Februari 2026
BerandaLombok UtaraKemenag Laporkan Hasil Pantauan Hilal di NTB Meski Minus 1,268 Derajat

Kemenag Laporkan Hasil Pantauan Hilal di NTB Meski Minus 1,268 Derajat

Lombok Utara – Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Nusa Tenggara Barat telah melaporkan hasil pemantauan rukyat hilal di Gedung Pusat Observasi Bulan Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Kepala Kanwil Kemenag NTB, Zamroni Aziz, mengatakan pihaknya telah melaksanakan sidang terbuka penentuan awal 1 Ramadan dengan dipimpin oleh pengadilan agama Giri Menang. Berdasarkan pemantauan, hilal terpantau minus 1,268 derajat di gedung POB Desa Teniga, Lombok Utara.

“Ini pertama kali kita laksanakan pemantauan hilal di Lombok Utara. Dan tentu hasilnya sudah disampaikan dan sudah disidang secara terbuka,” kata Zamroni seusai melaksanakan pemantauan hilal di POB Lombok Utara, Selasa (17/2/2026).

Dari sidang yang dilakukan secara terbuka, Zamroni berujar, perkara isbat menghadirkan 3 saksi pemantaua rukyat hilal.

Tiga saksi yang dihadirkan antara lain pemantau hilal dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), perwakilan tim observer dari Fakultas Ilmu Falak UIN Mataram dan BMKG Mataram. “Dari kesaksian tersebut ditemukan berdasarkan kesaksian oleh para saksi yang sudah disumpah sebelumnya menyatakan bahwa hilal tidak terlihat,” katanya.

Berdasarkan hitungan kata dia, posisi bulan berada minus 1 derajat. Sedangkan untuk Hilal bisa dilihat apabila berada pada 3 derajat. “Apapun hasil yang kami hasilkan hari ini, kami laporkan ke Kementerian Agama Pusat sebagai bahan untuk sidang isbat secara nasional,” ujarny.

Zamroni mengaku berdasarkan hasil pemantauan, maka, penentuan awal 1 Ramadan 1447 hijriah akan menunggu keputusan Kemenag RI.

“Tentu tadi sudah digambarkan, sudah disampaikan oleh dari pengadilan agama. Kami, tentu nanti kita tunggu keputusan pemerintah. Yang jelas apapun yang kami hasilkan tadi, kami sudah kirim ke Kementerian Agama sebagai rujukan sidang isbat di tingkat nasional,” tandas Zamroni.

Kepala BMKG Kelas I Mataram Sumawan mengatakan hasil pemantauan hilal di gedung POB Desa Teniga Lombok Utara, selisih tenggelam bulan berbeda 4 menit dari matahari. “Bulan lebih dulu tenggelam 4 menit baru diikuti matahari,” katanya.

Sumawan menyampaikan, tingkat iluminasi bulan berada di angka 0,02 perse. Dari data tersebut, sangat tidak mungkin bisa melihat hilal pada Selasa 17 Februari 2036. “Walaupun cuaca berawan. Pasti akan terlihat kalau memang tinggiannya memenuhi syarat 3 derajat,” katanya.

Ada pun posisi azimuth bulan berada lebih kiri dari posisi matahari sebesar 256 derajat. Hal itu juga menyebabkan teleskop tidak mampu memantau bulan. “Ya agak terhalang di sini oleh pohon karena sebelah kiri kan bukit, jadi kebetulan posisi bulan agak ke kiri. Jadi memang sulit untuk bisa melihat,” katanya.

Sumawan memastikan petugas BMKG Mataram akan kembali melakukan pemantauan hilal di Pantai Loang Baloq Mataram. Hal ini untuk memastikan tinggi hilal pada Rabu 18 Februari. “Kita tetap harus mendapatkan data posisi bulan,” tandas Sumawan.

- Advertisement -

Berita Populer