Lombok Barat (Inside Lombok) – Perayaan Lebaran Topat di kawasan Senggigi, Lombok Barat, akhir pekan kemarin dihadiri pimpinan daerah, masyarakat lintas kalangan, hingga wisatawan mancanegara. Kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan tradisi budaya, tetapi juga momentum kebersamaan yang memperkuat identitas daerah sekaligus mendukung sektor pariwisata Lombok Barat.
Dalam sambutannya, Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Lombok Barat yang dinilai berhasil melaksanakan tradisi sakral tersebut dengan antusiasme tinggi dari masyarakat lokal maupun wisatawan. Ia menilai, meskipun perayaan Lebaran Topat terus mengalami penyesuaian dari sisi kemasan dan penyelenggaraan, prosesi dan nilai filosofisnya tetap terjaga.
“Lebaran bermakna selesai dari ibadah puasa, baik 30 hari di bulan Ramadhan maupun tambahan enam hari di bulan Syawal. Luberan berarti berbagi dengan sesama, Leburan dimaknai sebagai melebur dosa dan saling memaafkan. Sementara Labur berarti disucikan, kembali pada fitrah sebagai pribadi yang bersih,” jelas Iqbal dalam sambutannya, pada perayaan Lebaran Topat di Senggigi, akhir pekan kemarin.
Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini (LAZ), juga menegaskan bahwa Lebaran Topat bukan sekadar perayaan, tetapi merupakan warisan leluhur yang sarat nilai spiritual dan sosial serta telah mengakar kuat di masyarakat. Ia menyebut, perayaan tahun ini terasa lebih hidup dengan berbagai atraksi budaya yang turut dimeriahkan pelaku pariwisata, termasuk hotel-hotel di kawasan wisata Senggigi.
“Setiap kegiatan budaya harus memiliki tiga dimensi utama, yakni menjadi daya tarik wisata, meningkatkan jumlah kunjungan, serta berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah,” tegas Bupati.
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat juga akan melakukan evaluasi setelah pelaksanaan Lebaran Topat untuk melihat dampaknya terhadap sektor pariwisata dan pendapatan daerah. Evaluasi tersebut akan menjadi dasar penyempurnaan penyelenggaraan pada tahun-tahun mendatang.

