Mataram (Inside Lombok) – Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada Maret 2026 sebesar 4,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,39. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi momentum Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 2026 yang mendorong lonjakan harga sejumlah komoditas.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengatakan inflasi pada Maret 2026 didominasi kenaikan harga bahan pangan selama periode mudik Lebaran. Ia menyebutkan sebaran inflasi di NTB bervariasi, dengan Kota Bima mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,09 persen, sedangkan Kabupaten Sumbawa menjadi yang terendah dengan angka 3,92 persen.
“Secara bulanan atau month to month (m-to-m), tingkat inflasi NTB pada Maret 2026 berada di angka 0,81 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date) sudah menyentuh 1,93 persen,” jelasnya, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan kenaikan harga bahan pangan menjadi faktor utama yang dirasakan masyarakat, terutama akibat tingginya permintaan selama Ramadan. Komoditas yang mengalami kenaikan antara lain cabai rawit, daging ayam ras, kol, tomat, dan terong. Selain itu, sektor energi dan transportasi juga memberikan andil terhadap kenaikan inflasi.
“Terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, hingga Dexlite. Hal ini dibarengi dengan naiknya tarif angkutan antarkota, terutama untuk rute mudik dari Mataram menuju Pulau Sumbawa seperti Dompu dan Bima,” terangnya.
Meski tekanan inflasi cukup kuat, Wahyudin menyebut laju inflasi masih dapat tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas perikanan seperti ikan teri dan ikan layang. Selain itu, kebijakan subsidi transportasi selama periode mudik juga dinilai membantu menekan kenaikan tarif angkutan udara, laut, dan penyeberangan.
“Sekarang ini pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat pengawasan distribusi pangan guna memastikan stabilitas harga pasca-Lebaran tetap terjaga di level yang aman,” pungkasnya.

