Mataram (Inside Lombok) – Pertamina Patra Niaga mencatat lonjakan konsumsi energi di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama periode Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 2026, dengan kenaikan tertinggi pada avtur yang mencapai 27 persen di atas rata-rata normal. Peningkatan ini dipicu tingginya mobilitas masyarakat selama arus mudik dan balik, hingga berakhirnya masa Satgas RAFI pada 1 April 2026.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Iwan Yudha Wibawa, mengatakan selain avtur, konsumsi energi lain juga mengalami peningkatan. BBM jenis gasoline naik 9,2 persen, LPG meningkat 7,9 persen, dan gasoil tumbuh 1,2 persen.
“Gasoil tetap mengalami kenaikan tipis. Hal ini menunjukkan bahwa meski industri berkurang, mobilitas logistik dan transportasi umum tetap bergerak stabil selama masa Satgas,” ungkapnya, Senin (6/4/2026).
Pertamina menyebut lonjakan konsumsi tersebut dapat diantisipasi berkat kesiapan infrastruktur energi di NTB. Selama periode RAFI, Pertamina mengoperasikan tiga terminal BBM, dua Aviation Fuel Terminal, 111 SPBU, dan 93 agen LPG, serta didukung sistem monitoring stok yang berjalan selama 24 jam.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, memastikan ketahanan stok energi tetap aman selama periode puncak. Ia menyebut cadangan berada pada kisaran 8 hingga 15 hari. “Di titik-titik rawan macet dan pemukiman, diterjunkan 5 unit motorist (PDS) dan 4 mobil tangki kantong yang bersiaga sebagai suplai cadangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil evaluasi pelaksanaan Satgas RAFI 2026 akan menjadi dasar perbaikan strategi distribusi energi ke depan, khususnya untuk menghadapi lonjakan konsumsi dan tantangan geografis di wilayah NTB.
“Kami akan terus meningkatkan keandalan layanan, terutama untuk wilayah-wilayah dengan tantangan geografis dan lonjakan konsumsi, agar kebutuhan energi masyarakat senantiasa terpenuhi,” pungkasnya.

