Lombok Barat (Inside Lombok) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kediri mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang terjadi pada periode peralihan musim di Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (06/04/2026). Kondisi ini dipicu oleh sebagian wilayah yang telah memasuki musim kemarau sejak akhir Februari, sementara wilayah lainnya masih berada pada masa pancaroba.
Ketua Tim Data dan Analisis Stasiun Klimatologi NTB, Bastian Andarino, menjelaskan bahwa peralihan musim meningkatkan potensi cuaca ekstrem, baik dari musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya.
“Perlu diketahui bahwa pada saat peralihan musim, baik musim kemarau menuju musim hujan maupun sebaliknya, yang biasa dikenal dengan periode pancaroba, itu potensi cuaca ekstrem akan meningkat,” terang Bastian.
Ia menyebutkan, cuaca ekstrem pada periode ini ditandai dengan perubahan yang cepat dalam satu hari. Kondisi cuaca umumnya cerah pada pagi hingga siang hari, kemudian berubah menjadi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang pada sore atau malam hari.
“(Perubahan cuaca yang cepat) biasanya ditandai dengan kondisi cuaca yang cerah pada pagi hingga siang hari. Dan berubah menjadi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang pada sore atau malam hari,” bebernya.
Menurutnya, sebagian besar wilayah NTB yang belum memasuki musim kemarau masih berada dalam fase peralihan, termasuk Lombok Barat. Hal ini menyebabkan hujan lebat masih sering terjadi dalam beberapa hari terakhir.
BMKG memprediksi seluruh wilayah NTB akan memasuki musim kemarau secara merata pada Mei mendatang. “Karena musim kemarau umumnya akan dimulai dari bagian timur dan secara gradual akan bergerak ke wilayah barat,” pungkas Bastian.

