BerandaRagamThe Unsconcious Theory : Pertunjukan Imersif yang Menggugat Dominasi Mesin atas Kesadaran...

The Unsconcious Theory : Pertunjukan Imersif yang Menggugat Dominasi Mesin atas Kesadaran Manusia

Mataram (Inside Lombok) – Pertunjukan seni lintas disiplin bertajuk The Unsconcious Theory yang digagas OUM Project bekerja sama dengan Taman Budaya NTB menghadirkan refleksi tentang relasi manusia dan teknologi melalui pengalaman imersif di Nusa Tenggara Barat. Karya seni media baru ini memadukan teater tubuh, visual eksperimental, dan musik industrial untuk menggambarkan batas antara kesadaran manusia dan kendali mesin di tengah perkembangan teknologi.

Penulis D’aryo menyebut pertunjukan ini hadir di tengah dunia yang semakin dimediasi teknologi, ketika algoritma dinilai mampu membaca kebiasaan manusia lebih cepat daripada nurani. Ia menggambarkan The Unsconcious Theory sebagai refleksi mendalam tentang batas rapuh antara kemanusiaan dan kendali mesin, yang lahir sebagai bentuk perlawanan sunyi terhadap dominasi teknologi.

Pertunjukan diawali dengan prolog bertajuk Kelahiran (Cinta Organik) yang menampilkan tubuh-tubuh performer bergerak lembut dan intuitif dalam suasana gelap dan sunyi. Visual menampilkan elemen kehidupan seperti bunga dan arus air, sementara musik akustik minimalis dipadukan dengan ritme detak jantung, menggambarkan manusia sebelum terpengaruh sistem dan teknologi.

Memasuki Babak I, suasana berubah dengan hadirnya cahaya putih dan visual geometris yang menggambarkan intervensi teknologi. Gerakan tubuh menjadi kaku dan mekanis, diiringi musik elektronik repetitif dan distorsi digital. Babak ini merepresentasikan kondisi di mana kesadaran manusia mulai dibentuk dan dikendalikan oleh sistem teknologi, hingga manusia diposisikan sebagai data dan pola.

Konflik mencapai puncaknya pada Babak II melalui pertarungan antara unsur organik dan mekanis yang divisualisasikan melalui gerak tubuh dan komposisi musik yang saling bertabrakan. Visual memperlihatkan benturan antara elemen alam dan mesin, menegaskan krisis eksistensial manusia terkait kepemilikan kesadaran di tengah dominasi sistem.

Pertunjukan ditutup dengan epilog yang menampilkan kembalinya gerak tubuh yang lebih bebas dan intuitif, disertai visual surealis dan musik ambient. Bagian ini menegaskan bahwa bawah sadar menjadi ruang yang tidak dapat diprogram oleh mesin, sekaligus menjadi penutup refleksi tentang posisi manusia di era otomatisasi.

Secara keseluruhan, The Unsconcious Theory menghadirkan pengalaman imersif yang menempatkan penonton sebagai bagian dari perjalanan batin. Pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban, melainkan mengajak publik merefleksikan kembali relasi manusia dengan teknologi di tengah perkembangan kecerdasan buatan.

- Advertisement -

Berita Populer