Lombok Timur (Inside Lombok) – Ratusan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga, menggelar aksi unjuk rasa hingga berujung penyegelan kantor desa, Kamis (9/4). Aksi tersebut dipicu dugaan kurangnya transparansi pengelolaan dana kas Masjid As-Somadi yang disebut sempat digunakan oleh kepala desa.
Koordinator umum aksi, Istur, dalam orasinya menuntut kejelasan penggunaan dana serta pengembalian dana kas masjid. Ia menyatakan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa telah menurun. “Kami ingin ada kepastian terkait dana kas masjid. Harus dikembalikan dengan jelas, karena ini menyangkut kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Massa juga mendesak Kepala Desa Kerongkong, Muin, untuk mundur dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab moral. Tuntutan tersebut muncul seiring dugaan penggunaan dana masjid hingga ratusan juta rupiah.
Menanggapi hal itu, Muin mengakui pernah meminjam dana kas masjid sekitar Rp170 juta. Ia menyebut sebagian dana telah dikembalikan dan telah ada kesepakatan dengan pengurus masjid terkait pelunasan. “Sebagian sudah saya kembalikan dan sudah ada perjanjian. Kami diberikan waktu, dan akan kami selesaikan sebelum jatuh tempo,” jelasnya.
Namun, ia menolak mundur dari jabatannya dan menyatakan tidak merasa melakukan pelanggaran. “Saya tidak akan mundur karena tidak merasa bersalah dan belum ada bukti pelanggaran,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Suralaga, Nur Hilal, mengatakan aspirasi masyarakat merupakan bagian dari proses demokrasi. Ia menjelaskan persoalan dana tersebut akan diselesaikan melalui mekanisme utang-piutang dan menegaskan pemberhentian kepala desa harus mengikuti prosedur yang berlaku. “Jika masyarakat merasa keberatan, silakan menempuh jalur resmi melalui kepolisian atau instansi terkait seperti Dinas PMD dan Inspektorat,” ujarnya.
Aksi unjuk rasa mendapat pengawalan aparat gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP. Kegiatan berlangsung tertib meski sempat terjadi ketegangan dan berakhir dalam kondisi aman serta kondusif.

