Mataram (Inside Lombok) – Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) NTB menggelar diskusi bertema “Masa Depan Industri Media yang Setara dan Inklusif bagi Perempuan” di Mataram, Jumat (8/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan World Press Freedom Day dan membahas kesetaraan, keamanan, serta peran strategis jurnalis perempuan di industri media.
Ketua FJPI NTB, Linggauni mengatakan kebebasan pers tidak akan utuh apabila kondisi kerja jurnalis perempuan masih berada dalam situasi rentan. “Kebebasan pers akan menjadi narasi yang cacat jika kita masih mengabaikan fakta bahwa jurnalis perempuan seringkali bekerja di bawah bayang-bayang kerentanan,” katanya.
Menurutnya, ruang redaksi yang adil harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan dalam pengambilan keputusan strategis serta menjamin keamanan dari diskriminasi dan kekerasan.
Ia menegaskan, perlindungan terhadap jurnalis perempuan harus mencakup keamanan saat peliputan, perlindungan hukum hingga keamanan digital. FJPI NTB juga mendorong perusahaan media memiliki protokol internal yang jelas dalam menangani kasus yang merugikan jurnalis perempuan.
“Kita tidak bisa menuntut kualitas jurnalisme yang tinggi jika rasa aman bagi jurnalis perempuan belum terjamin secara sistemik. Melalui diskusi ini, kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berhenti bersikap skeptis dan mulai membangun ekosistem media yang benar-benar sehat bagi semua pihak, terutama bagi perempuan,” pungkasnya.
Ketua Forum Wartawan Pemerintah Provinsi NTB, Marham menilai perempuan memiliki kontribusi besar dalam dunia jurnalistik, baik sebagai wartawan maupun pengambil keputusan di media. “Artinya, peranan perempuan dalam industri media ini tidak kecil, justru sangat besar,” ujarnya.
Pimpinan Redaksi Harian Suara NTB itu mengatakan perempuan bukan sekadar pelengkap di ruang redaksi, tetapi bagian penting dalam menentukan arah dan kualitas pemberitaan. “Ketika mereka punya prestasi dan tulisan yang bagus, tentu kita memberikan ruang dan tempat yang baik bagi jurnalis perempuan,” katanya.
Koordinator Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ), Haris Mahtul mengatakan dunia jurnalistik saat ini semakin inklusif terhadap perempuan. Menurutnya, banyak perempuan telah menduduki posisi strategis sebagai pengambil keputusan di media nasional maupun daerah.
“Jurnalisme saat ini sudah menjadi entitas yang sangat inklusif buat perempuan. Di media-media besar, perempuan sudah mengambil peran strategis sebagai decision maker di redaksi. Jadi sebenarnya kita tidak perlu pesimis, karena ruang-ruang itu sudah sangat terbuka,” bebernya. Meski demikian, ia mengakui tantangan keselamatan bagi jurnalis perempuan masih menjadi perhatian dalam setiap penugasan lapangan.
Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) NTB, Riadis Sulhi menegaskan perempuan saat ini memiliki kemampuan dan eksistensi yang kuat di berbagai sektor, termasuk media.
“Saya tidak meragukan peran, fungsi, dan kemampuan seorang perempuan. Ini saya jujur menyatakan itu. Di kehidupan sehari-hari, di lingkungan kerja, sampai di luar sana, sekarang perempuan itu sudah sangat eksis sekali berkarir,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan jurnalis perempuan agar terus meningkatkan kualitas dan integritas dalam bekerja serta tidak hanya bergantung pada rilis berita dari narasumber. “Jangan berpuas diri hanya karena diundang untuk rilis berita, kemudian ada narasumber, bahkan rilisnya langsung diberikan. Kita tinggal sadur, foto juga dikirimkan. Jangan hanya puas di situ,” katanya.

