Mataram (Inside Lombok) – Program makan bergizi gratis (MBG) tetap berjalan meski di tengah puasa Ramadan tahun ini. Sebagai penyesuaian, menu yang dibagikan kepada peserta didik berbeda dari biasanya.
Sebelumnya MBG yang dibagikan kepada peserta didik sejak Januari lalu berupa nasi beserta lauk pauk. Namun selama Ramadan ini menu diubah menjadi makanan yang bisa dimakan saat berbuka puasa nanti.
Kepala SMP Negeri 8 Mataram, Sulasmi mengatakan menu yang dibagikan kepada peserta didik selama dua hari terakhir ini berbeda-beda. “Hari pertama kemarin itu ada susu, kurma, telur rebus, roti dan buah. Kalau hari kedua ini ada buah, sari gandung, minuman sereal, kurma dan telur. Kalau buahnya ada yang salak ada juga apel,” katanya.
Pembagian menu MBG ini dilakukan setelah peserta didik selesai mengikut mid semester. Selain itu, pihak sekolah tetap mengingatkan peserta didik agar makanan yang dibagikan dimakan di rumah. Pasalnya, peserta didik di SMP Negeri 8 Mataram tidak hanya beragama Islam melainkan juga non muslim.
Peserta didik yang non muslim diingatkan tentang toleransi dan menghargai agama temannya. “Kita edukasi untuk tetap dibawa ke rumah. Dimakan di rumah bagi yang tidak puasa. Kalau yang berpuasa nanti pada saat berbuka,” katanya.
Imbauan ini tetap disampaikan kepada peserta didik. Karena para guru juga khawatir jika ada yang makan di sekolah, peserta didik yang lain bisa tergoda. “Tetap kita edukasi ini. Jangan hanya karena energen atau apel satu, mereka membatalkan puasa,” tegasnya.
Sulasmi juga menegaskan, meski tidak ada pembagian MBG peserta didik yang non muslim juga tetap menghargai temannya. Artinya selama Ramadan, tidak ada peserta didik yang makan sembarangan di sekolah. “Non muslim itu pada hari-hari biasa tidak makan sembarangan. Kita tetap edukasi juga,” ucapnya.
Sebelumnya, Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati juga sudah menyarankan agar makanan yang diberikan kepada anak-anak selama Ramadan disesuaikan dengan yang bisa dimakan untuk berbuka puasa. Karena jika disamakan dengan hari-hari biasanya maka akan basi dan tidak layak konsumsi.
“Kalau pun tetap dilanjutkan ya makanan yang bisa dikonsumsi pada saat buka puasa. Kalau nasi ya bagaimana ya, basi dan kalau sudah basi pasti mubazir,” ujarnya. Meskipun menu diganti, Erna memastikan makanan yang diberikan memiliki gizi tinggi bagi anak-anak. Tidak itu saja, makanan yang diberikan juga bisa tahan hingga waktu berbuka. “Pada saat dikonsumsi itu dalam keadaan masih bergizi. Kalau diberikan makanan niatnya bergizi seperti nasi itu tidak awet dan bisa-bisa mubazir,” tegasnya. (azm)

