24.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaTradisi BudayaSarat Nilai Agama dan Tradisi, Lebaran Topat di Lobar Dinilai Layak Masuk...

Sarat Nilai Agama dan Tradisi, Lebaran Topat di Lobar Dinilai Layak Masuk Event Nasional

Lombok Barat (Inside Lombok) – Perayaan lebaran topat di Lombok Barat (Lobar) yang digelar secara terpusat di Pantai Duduk 3, Batulayar berjalan meriah. Bahkan, ribuan orang datang memadati setiap sudut pantai di kawasan tersebut, sembari berziarah ke Makam Batulayar.

Perayaan lebaran topat sendiri merupakan tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Umat Muslim Sasak di Lombok biasanya merayakan lebaran topat usai melaksanakan puasa Syawal, selama enam hari setelah Idulfitri. Tradisi ini pun dianggap sebagai wujud rasa syukur atas selesainya rangkaian ibadah puasa sunnah tersebut.

Pemda Lobar pun setiap tahunnya secara rutin menggelar perayaan lebaran topat secara meriah dengan melibatkan masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pelaku wisata, dan lainnya. Perayaan lebaran topat di Lobar sendiri biasanya diawali dengan zikir bersama dan ziarah ke Makam Batulayar.

Tahun ini, Bupati Lobar, Lalu Ahmad Zaini (LAZ) bersama rombongan menuju makam dengan menggunakan cidomo dari Kantor Camat Batulayar. Pemilihan cidomo sebagai kendaraan menuju makam dianggap sebagai pengingat, bahwa para leluhur dari berbagai pelosok konon katanya datang ke Batulayar menggunakan cidomo saat lebaran topat.

Makam Batulayar sendiri diyakini merupakan tempat pemakaman seorang wali bernama Al Habib Abdurrahman Al Idrus. Ziarah makam dimulai dari lantunan syair-syair islami dari salah seorang tokoh agama, kemudian dilanjutkan doa dan bejenjam atau seraup sebagai manifestasi dari keyakinan bahwa air adalah untuk mensucikan.

Puncak perayaan lebaran topat kemudian ditandai dengan pemotongan topat agung oleh Bupati. Topat agung ini berisikan 1.446 buah ketupat yang tersusun rapi dan dilengkapi dengan aneka sayur mayur serta lauk pauk di sekelilingnya. Usai prosesi pemotongan secara simbolis, topat agung ini kemudian ditempatkan di pinggir pantai, dan masyarakat yang datang kemudian berebut topat dengan gembira untuk dinikmati bersama para kerabat.

Salah seorang warga, Zahari pun mengaku dirinya selalu antusias mengikuti perayaan lebaran topat yang digelar di Lobar. “Senang sekali, selalu ke sini kalau ada acara lebaran topat, datang sama keluarga ini buat rebutan ketupat,” tuturnya.

Sementara itu, LAZ berharap perayaan lebaran topat bisa menjadi event nasional, sehingga dapat memberikan dampak positif untuk peningkatan pariwisata dan ekonomi masyarakat. “Pariwisata itu identik dengan event, dan event itu tidak boleh monoton. Harus skalanya lebih besar. Dengan semakin besar skalanya, otomatis kita berharap juga menjadi event yang lebih menasional,” ujar LAZ, usai kegiatan.

Dia menilai bahwa tradisi lebaran topat harus tetap dilestarikan dan dibuat semakin menarik. Agar tradisi nenek moyang ini bisa menjadi bagian dari pariwisata yang menarik untuk dilihat dan diikuti oleh wisatawan. “Tentu dengan pelaksanaan event dengan skala lebih besar memberikan dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat. Apalagi kalau ada rangkaian kegiatan seminggu sebelum acara puncak. Sehingga pengunjung yang sedang liburan Idulfitri di Senggigi bisa memperpanjang liburannya,” terang dia.

Selain itu, LAZ juga mengutarakan keinginannya untuk menjadikan perayaan lebaran topat menjadi event nasional. Sekaligus juga sebagai bentuk dukungan untuk program Gubernur NTB, yakni NTB Mendunia. Terlebih kawasan Senggigi dan Batulayar sudah dikenal hingga mancanegara.

“Bagaimanapun juga bahwa visi pemerintah provinsi itu kan NTB Mendunia, nah Senggigi ini sudah mendunia, ini yang ingin kita garap bersama-sama. Saya juga sudah berkomunikasi dengan pak Gubernur, sejalan juga konsep itu untuk kita kembangkan Senggigi ini bersama,” harapnya.

Dari lokasi yang sama, Kadispar NTB, Jamaludin Malady mendukung keinginan Bupati Lobar untuk mengusulkan lebaran topat masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Karena di Lobar sendiri, tahun ini yang masuk KEN hanya event perang topat di Lingsar saja.

“Kedepan Insyaallah kita coba usulkan ke KEN supaya sama dengan event perang topat yang ada di Lingsar karena ini besar juga perputaran ekonominya,” jelas Jamal. Kedepannya, perayaan lebaran topat ini bukan saja menjadi milik Lombok Barat, tapi bisa jadi milik masyarakat seluruh Provinsi NTB. (yud)

- Advertisement -

Berita Populer