Lombok Utara (Inside Lombok) – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menunjukkan keseriusan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi daerah melalui pemanfaatan potensi sumber daya alam yang melimpah. Salah satu langkah strategis yang tengah dikaji secara mendalam adalah produksi air minum dalam kemasan (AMDK) dengan merek lokal.
Wakil Bupati KLU, Kusmalahadi Syamsuri memberikan tanggapan positif terhadap usulan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) KLU terkait inisiatif ini. Bahkan rencana itu disebutnya telah jauh hari dipertimbangkan pihak eksekutif.
Saat ini Pemda KLU disebut masih mencari regulasi dan hal pendukung lainnya. Dinas terkait pun telah berinisiatif mengumpulkan beberapa desa yang berpotensi untuk terlibat dalam usaha bersama AMDK ini. Respon positif dari tingkat desa menjadi modal awal yang kuat untuk merealisasikan proyek ambisius ini. “Alhamdulillah desa sudah support sampai hari ini, tinggal tindak lanjut kita seperti apa,” ujarnya, Kamis (17/4).
Ke depan, Pemda KLU membayangkan usaha AMDK ini dapat berkembang pesat, bahkan berpotensi menjadi produk unggulan daerah. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah mengeluarkan himbauan atau kebijakan yang mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menggunakan AMDK produksi lokal dalam kegiatan-kegiatan resmi. Nama merek pun telah disiapkan, yaitu “Air Dayan Gunung,” yang mencerminkan kekayaan alam KLU. “Kami sedang mengkaji itu semua,” ungkapnya.
Kesungguhan Pemda KLU dalam proyek ini juga dibuktikan dengan upaya membawa contoh produk AMDK lokal ke Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Respon dari kementerian pun sangat positif, yang melihat potensi besar KLU tidak hanya di sektor pariwisata, tetapi juga di bidang sumber daya alam. “Insyaallah dalam waktu dekat mereka akan berkunjung ke KLU, salah satunya mengenai air minum dalam kemasan,” katanya.
Dari sisi perencanaan teknis, dinas terkait telah melakukan kajian mendalam terkait proyek ini, termasuk perhitungan anggaran yang dibutuhkan. Kabar baiknya, desa-desa yang terlibat menyatakan kesanggupan untuk menanam saham dalam usaha ini, dengan perkiraan investasi awal sekitar Rp100 juta rupiah per desa.
Kusmalahadi meyakini proyek ini sangat memungkinkan untuk terwujud. Bahkan, ia memiliki gagasan mulia untuk melibatkan anak yatim dalam proses produksi, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat yang lebih luas. “Kita punya potensi air mata yang luar biasa, kita punya hampir 300 air mata. Kenapa tidak dimanfaatkan?” katanya.
Terkait dengan pengelolaan usaha AMDK ini, Pemda KLU masih melakukan pertimbangan yang matang. Meskipun menggandeng pihak ketiga terlihat lebih praktis karena potensi keuntungan bisnisnya, opsi pengelolaan mandiri oleh pemerintah daerah juga tidak dikesampingkan. Salah satu pertimbangannya adalah potensi untuk merevitalisasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) KLU yang selama ini dinilai belum terlalu eksis.
“Kita juga perlu belajar dari beberapa BUMD di luar, khawatirnya kalau BUMD ini tidak dikelola secara profesional oleh orang-orang yang profesional, rasanya hanya seremonial saja Lombok Utara punya BUMD lho, tapi core bisnis dari BUMD itu belum jelas mau ngapain,” pungkasnya. (dpi)

