Lombok Timur (Inside Lombok) – Jumlah guru kelas di sekolah dasar (SD) di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) semakin menipis, sementara ratusan diantaranya akan segera pensiun tahun ini. Mengantisipasi kekurangan itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lotim mengusulkan agar guru mata pelajaran (mapel) di sekolah menengah pertama (SMP) bersedia beralih menjadi guru kelas di SD.
Kepala Disdikbud Lotim, Izzudin menyampaikan bahwa situasi ini mendesak. Pada tahun ini saja, sebanyak 284 guru SD dipastikan pensiun, sehingga memperlebar celah kekurangan tenaga pendidik di jenjang SD. “Saat ini formasi guru SD sangat dibutuhkan, berbeda dengan SMP yang justru mengalami kelebihan guru mapel,” jelasnya, Jumat (25/4).
Ia menyarankan agar guru-guru SMP, terutama yang masih berstatus paruh waktu, mulai mengajar di SD agar dapat beradaptasi menjadi guru kelas. Hal ini juga berkaitan dengan ketentuan pemenuhan beban kerja 24 jam yang menjadi syarat pencairan tunjangan sertifikasi bagi guru yang telah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG).
“Banyak guru SMP yang sudah PPG tapi tidak bisa menerima tunjangan karena jam mengajarnya kurang dari 24 jam. Di SD, mereka bisa mengajar sebagai guru kelas dan memenuhi beban kerja itu,” tambahnya.
Izzudin juga menekankan bahwa kebutuhan guru mapel di SMP sudah terpenuhi, bahkan sebagian guru hanya mendapat beban kerja kurang dari 10 jam. Hal ini semakin mempersulit pencairan tunjangan bagi guru PPG yang bersangkutan.
Hingga saat ini, jumlah guru ASN di Lombok Timur dari jenjang SD hingga SMP mencapai 7.089 orang. Sementara itu, lebih dari 3.000 guru honorer telah terdaftar dalam database untuk diangkat sebagai guru paruh waktu. Langkah redistribusi guru ini diharapkan dapat mengisi kekosongan guru di SD sekaligus memastikan kesejahteraan guru PPG tetap terpenuhi. (den)

