25.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaRagamJasa Grafir Piring Coba Tetap Eksis Hadapi Perkembangan Zaman

Jasa Grafir Piring Coba Tetap Eksis Hadapi Perkembangan Zaman

Lombok Timur (Inside Lombok) – Jasa grafir keliling menjadi salah satu hal yang paling dicari kaum ibu-ibu, terutama untuk menandai barang pecah belah mereka. Biasanya tanda yang diberikan adalah tulisan nama sendiri atau anak. Kini, jasa grafir sedang mencoba bertarung dan tetap eksis pada perkembangan zaman.

Tukang grafir sendiri sudah hampir jarang ditemui saat ini, sebab perannya sudah digantikan oleh mesin yang dapat mudah digunakan oleh siapapun. Hal itu membuat para penyedia jasa grafir keliling saat ini harus kerja keras mencari pelanggan.

Bukhari, seorang penyedia jasa grafir asal Masbagik telah menekuni jasa tersebut sejak 1999 silam dengan cara berkeliling ke berbagai daerah di Lombok Timur, bahkan hingga ke pelosok desa. Pelanggannya didominasi oleh kaum ibu-ibu. Pekerjaan itu pun sudah menjadi bagian dari dirinya, dan sampai saat ini masih ditekuni.

Sekarang, ia pun mengaku sudah sangat sulit mencari pelanggan. Lantaran teknologi sudah sangat canggih, banyak orang bisa melakukan sendiri hingga jasanya jarang digunakan. “Sekarang mulai agak kurang (pelanggan). Tidak seperti awal-awal saya mulai dulu di tahun 1999,” ucapnya, Selasa (29/04/2025).

Minat orang mengoleksi barang pecah-belah pun diakui menurun, hingga turut berdampak pada profesinya. “Kalau orang dulu lebih penting barang pecah belah dibandingkan pakaian, bahkan sampai satu lemari barangnya dan itu dikeluarkan hanya pada momen tertentu saja,” jelasnya.

Saat ini, ia hanya mampu membawa pulang uang sekitar Rp30-70 ribu per hari dari kerja sebagai tukang grafir. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya ia dapat mengumpulkan hingga Rp80-175 ribu per harinya. “Kalau dulu pas awal saya terjun di dunia jasa ini, sehari bisa dapat Rp50-70 ribu per harinya di tahun 1999 hingga tahun 2000-an. Itu sudah termasuk banyak karena saat itu harga bahan dan barang masih murah-murah,” ucap pria berusia 60 tahun itu.

Meski tidak lagi mendapatkan pelanggan sebanyak dulu, bapak tiga anak tersebut tetap menekuni profesinya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah anaknya. Sementara harga yang ditawarkan untuk jasanya yakni Rp5 ribu per lusin barang pecah-belah. Bahkan jika jasa grafir sangat sepi, ia juga menawarkan jasa sol dan jahit sepatu dengan tarif Rp15 ribu per pasangnya. “Mau bagaimana lagi, cuma ini keahlian yang saya punya dan sudah nyaman. Pernah juga sesekali ikut di proyek, tapi ujungnya balik ke jasa ini lagi,” pungkasnya. (den)

- Advertisement -

Berita Populer