26.5 C
Mataram
Kamis, 29 Januari 2026
BerandaMataramBelum Jadi Tujuan Utama Wisatawan, Mataram Disebut Hanya Sebagai Tempat Transit

Belum Jadi Tujuan Utama Wisatawan, Mataram Disebut Hanya Sebagai Tempat Transit

Mataram (Inside Lombok) – Potensi pariwisata di Kota Mataram disebut masih biasanya saja. Karena sejauh ini perkembangan pariwisata di ibukota Provinsi NTB ini belum signifikan yang bisa menarik wisatawan untuk tinggal dan menikmati destinasi wisata.

Pemerhati Pariwisata, Jansnawadi Wirajagat mengatakan jika Kota Mataram sebagai daerah untuk tujuan wisata belanja, maka pusat perbelanjaan harus lebih lengkap. Untuk mengembangkan ini membutuhkan alokasi anggaran yang memadai. “Mataram ini sebuah kota kecil yang tidak punya banyak pilihan. Misalnya kalau di menjadi objek wisata belanja maka harus punya pusat perbelanjaan pilihan yang banyak,” katanya.

Kendati, jika ingin dikenal sebagai daerah wisata sejarah maka penataan tempat-tempat yang memiliki histori yang tinggi itu harus ditata. Misalnya taman Mayura, Kota Tua Ampenan, dan lainnya. “Ini harus ditata agar memiliki daya Tarik dan daya jual,” katanya.

Menurutnya, selama ini Kota Mataram hanya menjadi daerah transit para wisatawan baik yang akan berkunjung ke Tiga Gili (Gili Trawangan, Air dan Meno) atau ke Lombok Tengah. “Ini jadi daerah transit. Kalau dulu Senggigi sekarang bergeser ke Kuta Lombok Tengah. Sehingga Matara mini entah dulu atau sekarang saya rasa hanya sebagai transit saja,” ungkapnya.

Disisi lain, pemerintah Kota Mataram bisa mengembangkan daerahnya menjadi salah satu daerah yang melengkapi kebutuhan di satu tempat. Ia menyarankan, jika bangunan Mataram Mall sudah diambil alih Pemkot Mataram maka bisa dimanfaatkan untuk menjajakan semua oleh-oleh khas Provinsi NTB.

“Mataram Mall itu punya potensi untuk digarap. Itu kan aset pemda yang masih dikerjasamakan dengan swasta. Sebagian ruang disana dimanfaatkan sebagai Mall Pelayanan Publik. Saya ingin ada misalnya satu lantai itu nantinya menjadi pusat oleh-oleh khas NTB,” saran mantan Direktur Eksekutif BPPD NTB zaman TGH. M. Zainul Majdi ini.

Jika ini bisa direalisasikan maka penjualan oleh-oleh khas Provinsi NTB tidak lagi terpisah-pisah. Dengan sistem ini, para wisatawan ada alasan untuk bisa datang ke Kota Mataram yaitu berbelanja. “Orang ingin ke Mataram karena tahu ada one stop shopping NTB,” katanya.

Wirajagat menilai untuk mempertahankan bangunan Kota Tua sebagai kawasan yang sarat akan sejarah cukup sulit. Pasalnya, bangunan yang ada di kawasan tersebut merupakan milik warga sehingga pemkot tidak bisa melakukan penataan lebih besar. “Itu kan sudah ada beberapa upaya dari pemkot Mataram untuk kota tua Ampenan ini,” katanya.

Disisi lain, untuk menghidupkan semua destinasi wisata dan pusat oleh-oleh di Kota Mataram, pemda disarankan untuk lebih sering menjalin silaturahmi dengan para pemandu wisata. Pasalnya, keterlibatan pemandu wisata ini sangat penting untuk mempromosikan destinasi wisata dan menghidupkan pusat-pusat penjualan oleh-oleh. “Tanpa pemandu wisata pemkot ini harus berbuat 10 kali lebih ekstra dan belum tentu hasilnya maksimal tanpa menggandeng travel agen atau pemandu wisata,” katanya.

Untuk menarik wisatawan agar banyak berkunjung ke Mataram, harus ada event budaya secara rutin. Dengan adanya event ini, ada alasan lain wisatawan untuk datang ke Kota Mataram tidak hanya untuk berbelanja. “Ini bisa di gelar di Taman Mayura. Misal seperti gendang beleq, atau tari-tarian,” tutupnya. (azm)

- Advertisement -

Berita Populer