26.5 C
Mataram
Jumat, 30 Januari 2026
BerandaLombok TimurTransisi Energi di Desa Tetebatu Selatan di Tangan Para Perempuan

Transisi Energi di Desa Tetebatu Selatan di Tangan Para Perempuan

Lombok Timur (Inside Lombok) – Sebagai desa wisata banyak hal yang harus dibenahi salah satunya kebersihan Lingkungan. Desa Tetebatu Selatan sudah menjadi desa wisata yang sangat berkembang di Provinsi NTB.

Kunjungan wisatawan ke desa wisata itu sudah sangat tinggi tidak saja dari domestik melainkan mancanegara terutama Eropa. Melihat kunjungan wisatawan yang sangat tinggi, warga di desa wisata tersebut ramai membuat tempat penginapan.

Saat ini salah satu pengolahan sampah yang mulai dilakukan yaitu melalui biogas. Bahkan pengolahan sampah ini sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat yaitu tidak lagi membeli gas elpiji atau mencari kayu bakar.

Menariknya lagi, program biogas yang ada di Desa Tetebatu Selatan mengakomodir para Perempuan. Pemberdayaan Perempuan melalui program tersebut sudah mulai terlihat. Dimana mereka bisa mulai lebih sadar untuk menjaga kebersihan terutama tentang pengolahan sampah dan menjadikanya salah satunya kebutuhan sehari-hari.

Rumisah, warga di Desa Tetebatu Selatan, selama dua bulan terakhir sudah mulai menggunakan biogas. Selama ini, proses memasak yang dilakukan mengandalkan kayu bakar. “Pakai kayu bakar untuk memasak. Apalagi saya yang menjual jajan tradisional, jadi lebih baik pakai kayu karena proses memasak yang lama. Kalau pakai gas elpiji bisa rugi,” katanya saat ditemui di rumahnya.

Usia yang tidak lagi muda, keberadaan biogas yang digagas oleh salah satu NGO yaitu Gema Alam sangat membantu. Karena sudah tidak mampu lagi mencari kayu bakar untuk memasak. “Sudah tua jadi tidak kuat lagi untuk mencari kayu bakar,” katanya.

Penggunaan biogas ini disambut baik oleh pemerintah desa setempat dan akan menjadi program kedepannya. Karena Rumisah merasakan sendiri manfaat dari biogas tersebut. Tidak lagi takut kehabisan gas saat memasak dan dirasa lebih aman. “Selama memakainya tidak ada kendala. Saya juga tidak takut gas habis saat proses memasak,” ungkapnya.

Biogas yang digunakan bersumber dari sampah organic dan kotoran sapi. Warga di Desa Tetebatu Selatan berprofesi sebagai petani, peternak dan buruh. Kotoran sapi yang dihasilkan sekarang sudah tidak dibuang lagi melainkan jadikan sebagai bahan utama biogas.

Pengisian sampah dan kotoran sapi ke dalam tabung selama dua hari sekali. Kapasitasnya yaitu sebanyak enam kubik untuk dua kompor. Program ini memiliki multiplayer efek, tidak saja kebersihan lingkungan melainkan juga bisa lebih hemat. “Setiap dua hari sekali saya menumpahkan sampah dan kotoran sapi ke tabung yang sudah dibuat,” kata Salamah.

Khusus untuk sampah, sebelum dituang ke dalam tabung maka akan direndam terlebih dahulu. “Kita rendam dulu sebelum dijadikan sumber biogas,” tambahnya.

Kepala Desa Tetebatu Selatan, Zohri Rahman menerangkan program transisi energi di wilayahnya sudah mulai meningkat. Karena sebelum penyiapan fasilitas, peningkatan kesadaran masyarakat sudah dilakukan sehingga fasilitas yang dibangun bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Bahkan, untuk mengembangkan program tersebut Desa Tetebatu Selatan akan mengalokasikan anggaran khusus melalui dana desa yang ada. Namun sebelumnya akan melihat aturannya agar tidak salah.

“Ada pembinaan juga dari pihak NGO. Kita kolaborasi dan kalau memang ini dirasa sangat bermanfaat dan sangat baik makanya kami akan membuat di beberapa tempat bahkan di setiap dusun,” kata kades.

Penggunaan biogas tidak hanya menyasar rumah tangga melainkan juga para UMKM. Dengan program tersebut sampah yang dihasilkan tidak lagi dibuang melainkan memiliki nilai ekonomi.

“Mereka bisa terbantu. Ini kan baru hanya dua atau tiga yang memakai dan kita ingin yang lebih besar. Kita masih menunggu pembinaan dari NGO ini bagaimana teknisnya,” katanya. (azm)

- Advertisement -

Berita Populer