28.5 C
Mataram
Kamis, 29 Januari 2026
BerandaKomunitasEarth Hour Mataram dan Sejumlah Komunitas Dorong Edukasi Perubahan Iklim Lewat "Lapak...

Earth Hour Mataram dan Sejumlah Komunitas Dorong Edukasi Perubahan Iklim Lewat “Lapak Aksi”

Mataram (Inside Lombok) – Earth Hour Mataram bekerja sama dengan WWF-Indonesia dan INOVASI NTB menyelenggarakan acara bertajuk Lapak Aksi, mengusung tema “Kolaborasi untuk Mewujudkan Pendidikan Iklim yang Inklusif”. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu (1/6) di dua lokasi di Kota Mataram: Rota Kopi 1969, Rembiga, serta kawasan Car Free Day (CFD) Udayana.

Agenda Lapak Aksi mencakup berbagai kegiatan seperti parade iklim, aksi bersih lingkungan, lokakarya singkat, sesi melukis langsung oleh seniman Chole, serta diskusi bertema perubahan iklim (climate talk). Diskusi ini dimoderatori oleh Ruhma Ruksalana H., dengan pembicara Miftahul I. Purnama dari Saujana dan Kandi Sekarwulan dari Jaga Bumi serta Gumil Movement. Wibisono Setiyoadi,

Koordinator Kota Earth Hour Mataram, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat literasi perubahan iklim di NTB. Ia menyebutkan bahwa meskipun masyarakat kerap mendengar istilah perubahan iklim, banyak yang belum memahami dampak maupun gejalanya secara konkret. “Perubahan iklim bisa menjadi ancaman besar di masa depan. Sayangnya, kesadaran akan isu ini belum menjadi prioritas dalam pendidikan di Indonesia,” ujarnya.

Sebagai langkah lanjutan, Earth Hour Mataram akan menggandeng komunitas dan organisasi untuk menyusun modul edukasi iklim berbasis lokal yang nantinya akan disalurkan ke sekolah-sekolah. Wibisono menargetkan modul ini selesai pada tahun 2026.

Perwakilan INOVASI NTB, Mila Karmila, dalam sambutannya mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini. INOVASI sendiri merupakan program kerja sama antara pemerintah Australia dan Indonesia yang berfokus pada pendidikan dasar, dan kini memasuki fase ketiga. “Di fase ini, kami menyasar ekosistem pendidikan dengan fokus pada isu perubahan iklim. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata penguatan tema tersebut,” jelas Mila.

Lapak Aksi dimulai pukul 07.00 Wita dengan aksi bersih-bersih di area CFD Udayana, dilanjutkan diskusi di Rota Kopi 1969. Dalam diskusi, para narasumber menyoroti pentingnya pendidikan sebagai strategi utama dalam menghadapi perubahan iklim.

Miftahul I. Purnama menekankan bahwa pendekatan edukatif sangat krusial untuk membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Ia juga menyoroti perlunya pembelajaran nilai dan sikap sejak dini, seperti budaya antre dan memilah sampah. “Di sekolah, kita diajarkan jangan buang sampah sembarangan, tapi penerapannya di rumah sering tak konsisten. Dibutuhkan pendekatan yang lebih menyentuh norma dan kesadaran diri,” ungkapnya.

Sementara itu, Kandi Sekarwulan mengingatkan bahwa dunia tengah menghadapi krisis iklim, ditandai dengan peningkatan suhu global yang signifikan. Ia menegaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak karena banyak warganya menggantungkan hidup pada sumber daya alam.

“Anak muda termasuk kelompok paling rentan terhadap dampak krisis ini. Maka, pendidikan iklim sangat penting agar mereka siap menghadapi tantangan ke depan,” tegas Kandi.

Sesi diskusi ditutup dengan pertunjukan lukisan langsung oleh Chole yang menggambarkan tema perubahan iklim. Acara diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta. (gil)

- Advertisement -

Berita Populer