Mataram (Inside Lombok) – Kinerja ekonomi NTB mengalami kontraksi akibat penghentian ekspor konsentrat oleh PT Amman Nusa Tenggara (AMNT). Hal ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian.
“Pertumbuhan ekonomi NTB minus 1,47 persen. Tingginya ketergantungan pada sektor pertambangan turut berperan. Penutupan smelter di Sumbawa dan larangan ekspor konsentrat berdampak besar,” ujarnya saat menghadiri forum Musrenbang NTB 2025 di Mataram, Rabu (4/5).
Ia juga mengapresiasi upaya Gubernur NTB dalam memperjuangkan relaksasi kebijakan ekspor. “Saya tahu Pak Gubernur sudah berusaha keras. Saya sendiri sudah menghubungi Pak Bahlil dan akan lanjutkan komunikasi,” katanya.
Mantan Kapolri tersebut juga membagikan data terkait kondisi NTB. Berdasarkan catatan BPS, inflasi di wilayah ini relatif terkendali di angka 1,63 persen. Tingkat pengangguran terbuka pun rendah, yakni 2,73 persen, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 4,91 persen. “Capaian ini patut diapresiasi. Namun, Gini Rasio NTB masih tergolong tinggi, yakni 0,375, terutama di daerah dengan ketimpangan ekonomi yang cukup besar,” jelas Tito.
Sementara itu, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan bahwa kehadiran Mendagri dan Wamen Bappenas memberikan semangat dalam mewujudkan visi pembangunan NTB: Makmur dan Mendunia. “Kami secara khusus memohon arahan dari Bapak Mendagri dan Bapak Wamen Bappenas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Musrenbang tahun ini melibatkan berbagai pihak lintas sektor sebagai bagian dari paradigma baru dalam pembangunan daerah. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran. “Tujuannya adalah menjadikan NTB sebagai pusat pangan, agro maritim, dan pariwisata bertaraf internasional,” kata Iqbal.
Iqbal juga menyampaikan bahwa saat ini sedang dilakukan studi kelayakan pembangunan silo jagung serta kerja sama dengan ITS Surabaya untuk pengangkutan barang melalui kapal tongkang (mini port), sebagai alternatif dari pembangunan dermaga besar. “Kami juga berharap dukungan dari pemerintah pusat untuk mengelola 40 ribu hektare lahan pertanian,” tambah Iqbal
Lebih lanjut, NTB akan fokus mengembangkan sektor budidaya perikanan, yang selama ini masih bergantung pada penangkapan ikan. “NTB juga sedang menjajaki konektivitas ke destinasi baru seperti Perth di Australia, Bangkok, dan Bali. Kami juga ingin menghidupkan kembali Senggigi yang saat ini masih lesu,” ungkapnya.
Ia menutup dengan menekankan pentingnya infrastruktur jalan untuk mendukung konektivitas antar destinasi wisata di NTB yang selama ini belum optimal. “Itulah yang akan menjadi penghubung antar destinasi unggulan di daerah ini,” tutupnya. (gil)

